Netral English Netral Mandarin
banner paskah
20:15wib
Leicester City berhasil menyabet gelar juara Piala FA usai membungkam Chelsea 1-0 di Stadion Wembley, Sabtu (15/5). Gol tunggal kemenangan The Foxes dicetak oleh Youri Tielemans di menit ke-63. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk menutup sementara Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Taman Margasatwa Ragunan, pada 16-17 Mei 2021.
Kelebihan Bayar Alat Damkar, Sudah Sering Terjadi tapi Baru Kepergok? Netizen: Lanjutkan Pak Anies

Jumat, 16-April-2021 08:54

Ilustrasi alat damkar yang dibeli Pemprov DKI Jakarta
Foto : Portral Islam
Ilustrasi alat damkar yang dibeli Pemprov DKI Jakarta
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Polemik kelebihan bayar alat Damkar yang dibeli Gubernur Anies Baswedan masih ramai menjadi pergunjingan publik. 

Bahkan, disebut-sebut ada yang mencurigai bahwa jangan-jangan kelebihan bayar sebenarnya sudah sering terjadi dan baru ini yang kepergok atau ketahuan. 

Salah satu politikus yang mengungkap hal itu adalah Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono.

Di akun FB Mak Lambe, Jumat 16 April 2021  pernyataan Gembong ramai dikomentari netizen.

MLT: “Dan cuma bisa baca dan liat aja.. Mau gimana lagi.”

Ali Nursea: “Mana berani kpk.”

Eyang Hadi Winarto: “Kok lebih sampai miliaran ya emng GK pd bisa ngitung.”

Aldebaran Brigitte Montoya: “Aman lah, kan ada sodara di KPK.”

Andhi Hellis: “Matappp lajutkan pak anis.”

Kang Bahar: “Bukan Teledor Tapi DiSENGAJA, BUKAN RAHASIA LAGI. YANG TERPENTING KPK BERANI NDAK MRIKSA ANIES SUDAH JELAS BANYAK PELANGGARANNYA PENGGUNAAN ANGGARAN.”

Sebelumnya diberitakan, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono curiga Anies Baswedan banyak melakukan kesalahan transaksi pengadaan berbagai barang di Ibu Kota selama menjabat Gubernur DKI.

Hal ini disampaikan Gembong setelah mengetahui hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) DKI Jakarta yang menyebut Anies Baswedan salah bertransaksi ketika pengadaan peralatan pemadam kebakaran (Damkar) pada 2019 lalu. 

Pemprov DKI disebut kelebihan membayar peralatan tersebut dengan selisih mencapai Rp6,5 miliar.

"Jangan-jangan hanya itu yang ketahuan," kata Gembong ketika dikonfirmasi Kamis (15/4/2021).

Kecurigaan Gembong bukan tak beralasan. Dia mengatakan, selama masa kepemimpinan Anies Baswedan, seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di DKI Jakarta memang tidak punya perencanaan yang baik. 

Hal ini kata dia sangat berpotensi terjadi kesalahan transaksi dalam pengadaan barang ataupun jasa.

"Setiap SKPD kekurangan perencanaan. Itu merata di semua SKPD," tegasnya.

Gembong menjelaskan, jika Anies Baswedan dan jajarannya menggodok perencanaan yang baik, maka kesalahan fatal seperti kelebihan duit pembayaran pengadaan barang ini tidak akan terjadi. 

Gembong menyayangkan peristiwa ini, Anies Baswedan dan jajarannya dinilai terlalu teledor.

"Apapun alasannya itu soal perencanaan yang tidak baik kunci untuk melakukan proses pembangunan dengan benar maka kunci utamanya adalah perencanaan. perencanaan yang baik Insya Allah akan mempengaruhi pelaksanaan yang baik," katanya seperti dilansir Akurat.co.

Keganjilan dalam pembayaran alat-alat pemadam kebakaran diketahui dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) DKI Jakarta tahun 2019. 

Dalam laporannya, BPK menyebut Gubernur Anies Baswedan dan jajarannya membayar lebih peralatan itu dengan selisih mencapai Rp6,5 miliar.

Pertama adalah pembelian unit submersible yang memiliki harga Rp9 miliar dan nilai kontrak Rp9,7 miliar. Maka ada pembayaran dengan selisih Rp761 juta.

Kemudian unit quick response dengan selisih harga Rp3,4 miliar. Sebab harga alat itu adalah Rp36,2 miliar dan nilai kontrak Rp39,6 miliar.

Lalu Gulkarmat juga membeli unit penanggulangan kebakaran pada sarana transportasi massal dengan harga Rp7 miliar dan nilai kontrak Rp7,8 miliar. Selisih uang yang kelebihan pembayarannya adalah Rp844 juta.

Terakhir adalah unit pengurai material kebakaran, harganya Rp32 miliar, nilai kontrak Rp33 miliar, selisihnya Rp1 miliar.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto