JAKARTA,NETRALNEWS.COM - Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi mengkritik pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang berkelakar menyebut malam Lailatul Qadar akan turun jika kursi Golkar bertambah. Muslim menilai pernyataan tersebut berpotensi menyinggung nilai-nilai sakral dalam ajaran Islam. Menurut Muslim, Lailatul Qadar merupakan salah satu peristiwa spiritual paling suci dalam Islam sehingga tidak pantas dijadikan bahan candaan politik, apalagi dikaitkan dengan kepentingan elektoral sebuah partai. “Lailatul Qadar adalah malam yang sangat sakral dalam ajaran Islam. Mengaitkan turunnya Lailatul Qadar dengan bertambahnya kursi politik suatu partai jelas merupakan bentuk kelakar yang tidak pantas dan berpotensi menistakan agama,” kata Muslim dalam keterangannya, Minggu (8/3). Dalam ajaran Islam, Lailatul Qadar diyakini sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hal tersebut tertuang dalam Surah Al-Qadr yang menjelaskan bahwa malam tersebut merupakan waktu turunnya rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Muslim mengatakan umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan untuk meraih keutamaan malam tersebut. Ia menilai menjadikan peristiwa sakral tersebut sebagai bahan kelakar politik berpotensi melukai perasaan umat Islam. “Ketika simbol-simbol agama dijadikan bahan humor dalam konteks politik praktis, itu bisa menimbulkan kegaduhan dan melukai sensitivitas umat,” ujarnya. Muslim menambahkan, pernyataan tersebut menjadi semakin sensitif karena muncul pada momentum Ramadan, ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa dan meningkatkan spiritualitas. Menurutnya, seorang pejabat publik seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan, terlebih jika menyangkut simbol-simbol agama. “Pejabat negara seharusnya memberi contoh dalam menjaga etika publik. Apalagi pernyataan yang berkaitan dengan agama, harus benar-benar dipikirkan dampaknya,” katanya. Muslim juga menilai pernyataan semacam itu dapat memicu polemik di masyarakat dan berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu. Karena itu, ia mendorong Bahlil memberikan klarifikasi atau permintaan maaf kepada publik jika pernyataan tersebut benar disampaikan dalam konteks candaan yang tidak tepat. “Jika itu hanya kelakar, sebaiknya disampaikan klarifikasi atau permintaan maaf kepada umat Islam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” kata Muslim.