Netral English Netral Mandarin
banner paskah
15:36wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Kasus Penistaan Agama 4 Nakes Dihentikan, Siapa Menang? DS: Kalian, Terima Kasih Buzzer Pro-NKRI

Kamis, 25-Februari-2021 10:31

Denny Siregar
Foto : Istimewa
Denny Siregar
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kasus 4 nakes dituduh melakukan penistaan agama akhirnya tak berlanjut alias dihentikan oleh kejaksaan. Hal ini membuat gembira Denny Siregar. 

Secara khusus, ia menulis catatan mengenai hal ini dengan judul "Buzzer di Media Sosial."

Menurutnya, dengan penghentian kasus tersebut, sebenarnya kemenangan diperoleh oleh para aktivis media sosial. Meski sering disebut "buzzer" namun Denny merasa bangga dengan kiprah yang ia jalani.

"Siapa yang menang dalam kasus ini?? Kalian. Ya kalian, para pejuang di media sosial. Kalian yang menyempatkan sedikit waktu dan kuota, untuk mau bersusah payah memberikan dukungan. Biar para kadrun tahu, kita gak suka main demo2an. Tapi sekali kita kompak di media sosial, mereka seperti melawan gelombang raksasa yang gak akan bisa mereka tahan," kata Denny, Rabu malam (24/2/21).

"Contohnya FPI. Tanpa dukungan kita semua di media sosial, tentu aparat belum tentu berani menghancurkan mereka. Sekarang baru mereka mengerti, bahwa tembok yang mereka bangun tinggi, bisa hancur berkeping2 tanpa mrk sadari. Terimakasih, teman2. Para buzzer. Buzzer yang pro NKRI..." imbuhnya.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

BUZZER DI MEDIA SOSIAL

Hari ini saya bahagia banget..

Kejaksaan Pematang Siantar akhirnya berhentikan kasus penistaan agama terhadap 4 tenaga kesehatan disana. Bahagia dan lega, meski para nakes itu saudara bukan, kenal aja ngga..

Tapi kisah pahit mereka menyebar kemana-mana. Informasi tentang mereka diawali oleh teman kita, Eko Kuntadhi, yang diminta oleh pengacara dan keluarga para nakes untuk membantu mereka.

Ketika saya nulis di page tentang "kisah aneh di Pematang Siantar" yang share 4.500 orang, dan menyebar di 1 juta orang lebih. Ini berarti kita perduli terhadap situasi di negeri ini. Itu seperti ribuan anak panah yang meluncur bersamaan..

Saya dengar tulisan itu beredar juga di grup2 WA para petinggi istana dan membuat mereka mulai mencari informasinya.Petisi saja sudah mencapai hampir 17ribu orang yang tanda tangan.

Akal sehat kita pasti menolak logika bodoh yang menimpa para nakes di Pematang Siantar, kok bisa mereka dikenakan pasal penistaan agama?? Padahal mereka sedang menjalankan tugas beratnya. 

Media sosial, jika digunakan dengan benar, maka akan menjadi senjata ampuh melawan semua ketidak adilan negeri ini. Coba tidak ada tekanan lewat media sosial, kasus itu bisa tenggelam dan para nakes bisa dipenjara meski mereka tidak bersalah.

Salah satu pola kadrun ketika melaporkan seseorang, mereka pasti mengandalkan demo massa, atau bahasa kerennya trial by mob. Tekanan mereka ini yang bikin aparat gagap, karena khawatir ada kerusuhan SARA di daerahnya. 

Saya paham banget dengan situasi ini, karena mereka melakukan tekanan yang sama pada kasus saya dgn demo2 di kantor polisi, meski bukti hukum mereka tidak kuat. Mereka cuma mengandalkan otot, otaknya tinggal seperempat.

Siapa yang menang dalam kasus ini ??

Kalian. Ya kalian, para pejuang di media sosial. Kalian yang menyempatkan sedikit waktu dan kuota, untuk mau bersusah payah memberikan dukungan. Biar para kadrun tahu, kita gak suka main demo2an. Tapi sekali kita kompak di media sosial, mereka seperti melawan gelombang raksasa yang gak akan bisa mereka tahan.

Contohnya FPI. Tanpa dukungan kita semua di media sosial, tentu aparat belum tentu berani menghancurkan mereka. Sekarang baru mereka mengerti, bahwa tembok yang mereka bangun tinggi, bisa hancur berkeping2 tanpa mrk sadari.

Terimakasih, teman2. Para buzzer. Buzzer yang pro NKRI...

Secangkir kopi adalah simbol perlawanan. Ia pahit, tapi pahitnya menyadarkan. Saya ingin seruput sebagai tanda kemenangan, ditambah sebatang udud sebagai nilai kesempurnaan.

Angkat cangkir kopinya, kawan.. Seruputtt..

Denny Siregar

Kasus Dihentikan

Sebelumnya diberitakan Kasus pemandian jenazah wanita oleh empat tenaga kesehatan (nakes) RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar yang sempat diperkarakan akhirnya dihentikan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pematang Siantar.

Kepala Kejari (Kajari) Pematang Siantar, Agustinus Wijono Dososeputro mengatakan, unsur penodaan agama sebagaimana Pasal 156A Jo Pasal 55 UU Tentang Penistaan Agama oleh keempat terdakwa tenaga kesehatan tidak terbukti.

"Pada hari ini, kami mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan sebagaimana yang kami sampaikan tadi," kata Agustinus diberitakan Kantor Berita RMOLSumut, Rabu (24/2).

Ia mengaku ada kesalahan penelitian yang dilakukan jaksa dalam kasus yang sempat dinyatakan lengkap atau P-21 ini. Kemudian unsur dengan sengaja menghina agama, yang dilakukan para terdakwa kepada jenazah wanita tidak terbukti.

"Penghinaan di muka umum juga tidak terbukti dan perbuatan keempat tenaga kesehatan saat itu hanya untuk melakukan pemulasaran di masa pandemi Covid-19," pungkasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto