Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:46wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Jansen Sitindaon Heran, Dari Mana Logikanya Pak Mul Jadi Ketum Demokrat?

Senin, 08-Maret-2021 22:44

Wasekjen Partai Demokrat Jansen Sitindaon
Foto : Twitter Jansen Sitindaon
Wasekjen Partai Demokrat Jansen Sitindaon
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Sekjen Partai Demokrat Jansen Sitindaon terheran-heran dengan dipilihnya Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara pada Jumat (5/3/2021) lalu.

Keheranan Jansen bukan tanpa alasan. Pasalnya, ia menyebut Moeldoko bukan kader atau simpatisan Demokrat, namun ujug-ujug dipilih dan dikukuhkan jadi ketum partai berlambang bintang mercy itu.

"Ini sederhana sih, saya tadi berpikir begitu ya, Pak Mul ini kan bukan kader Demokrat, tidak juga pernah menjadi simpatisan Partai Demokrat, bahkan dalam pemilu pun ya mungkin belum pernah milih Demokrat," kata Jansen dalam video yang diunggah di akun Twitternya, Senin (8/3/2021).

"Karena kan sebelumnya beliau ini kader dan pengurus partai lain. Jadi dari mana logikanya coba jadi Ketua Umum Partai Demokrat," sambungnya.

Jansen juga menilai, Moeldoko tidak mengenal struktur organisasi Partai Demokrat. Bahkan, ia menduga mantan Panglima TNI itu tak hafal lirik dan nada Mars Demokrat.

"Jadi jangankan mengenal struktur partai. Saya saja sudah 12 tahun di partai ini tidak seluruh struktur partai se-Indonesia ini saya kenal, bahkan saya ini sudah memimpin hampir ratusan sidang muscab gitu. Jadi bagaimana seperti Pak Mul ini," ujarnya.

"Jadi jangankan mengenal struktur partai, menyanyikan lagu Mars Partai Demokrat "Megah, berkibar, menjulang ke angkasa panji Partai Demokrat". Nah jangan-jangan menyanyikan itu saja, jangankan liriknya, nadanya saja belum tepat," sindir Jansen.

Atas berbagai fakta itu, Jansen mempertanyakan apa yang menjadi dasar pertimbangan sehingga Moeldoko bisa dipilih jadi Ketum Demokrat.

"Coba dari mana logikanya jadi Ketua Umum Partai Demokrat. Ini belum lagi soal KTA (kartu tanda anggota), belum lagi soal masa lamanya di partai, ini kan ketua umum, itu kan ada aturannya," tandasnya.

Lebih jauh, Jansen menghimbau kepada seluruh Kader Demokrat untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir dengan manuver kubu KLB di Sumut dan Moeldoko yang berupaya mengambil alih kepemimpinan Demokrat.

Pasalnya, ditegaskan Jansen, selain syarat-syarat yang tidak terpenuhi untuk menggelar KLB, secara individual pun Moeldoko tidak memenuhi syarat menjadi Ketua Umum Demokrat.

Jansen yakin kepengurusan Demokrat versi KLB Sumut tidak akan disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Jansen pun menyerukan supaya seluruh kader Demokrat agar tetap solid dan satu komando di bawah kepengurusan Demokrat yang sah yang diketuai oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Jadi udah, teman-teman tenanglah, selain soal syarat-syarat KLB-nya tidak terpenuhi, syarat individualnya pun tidak terpenuhi kandidat ini. Jadi tenanglah, itu tidak akan disahkan oleh Kemenkumham. Jadi tetap solid di bawah mas AHY," pungkasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli