Netral English Netral Mandarin
banner paskah
06:56wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Inilah yang Dicari Swiss dari Indonesia

Minggu, 14-Februari-2021 17:15

Produk UKM banyak disukai warga Swiss.
Foto : UKM
Produk UKM banyak disukai warga Swiss.
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -Mantan Wakil Menteri Perdagangan Krisnamurthi menjelaskan dalam dua tiga minggu ke depan,ada yang menarik terjadi di Kawasan Pegunungan Alpen Eropa dan nama Indonesia akan banyak disebut di kawasan itu.

Dalam tiga minggu kedepan akan dilakukan referendum, jajak pendapat, di antara warga negara Swiss: apakah mereka setuju, atau tidak, atas kesepakatan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif antara Swiss dan Indonesia.

Menurut mantan Wamendag ini, kerja sama Indonesia-Swiss itu adalah bagian dari kerjasama ekonomi Indonesia dengan kelompok negara-negara yang disebut sebagai EFTA (European Free Trade Association). Asosiasi ini didirikan tahun 1960 oleh 7 negara, namun saat ini hanya terdiri dari 4 negara yaitu Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein. Indonesia dan EFTA telah memulai pembahasan untuk membangun Kesepakatan KerjaSama Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) sejak sekitar 9 tahun lalu, yang dikenal sebagai Indonesia-EFTACEPA (IE-CEPA).

Proses pembahasannya telah selesai dan kesepakatan kerjasama itu telah ditandatangani oleh masing-masing wakil pemerintah pada Desember 2018. Di Indonesia, prosesnya saat ini adalah pada tahap ratifikasi oleh DPR, demikian juga di Liechtenstein.

Di Norwegia ratifikasi sudah selesai pada Desember 2019 dan di Islandia selesaipadaJanuari 2020.EFTA telah dan dapat semakin menjadi mitra dagang yang penting dan memberi manfaat ekonomi bagi Indonesia.Meskipun keempatnegara EFTA itu hanya memiliki total populasi penduduk sekitar 14 juta orang, tetapi perekonomian gabungan mereka mencapai sekitar USD 1,2 triliun; hanya sedikit dibawah besarnya ekonomi Indonesia.

Dapat dimengerti jika pendapatan per kapita masyarakatnya jauh lebih besar, yaitu sekitar USD 80─85 ribu pertahun, dan tentunya memiliki daya beli yang jauh lebih tinggi pula. Disisi lain,keempatnegara EFTA itu juga dapat menjadi pintu gerbang ke negara-negara Eropa lainnya yang lebih besar jumlah penduduknya maupun nilai ekonominya.

Dari tahun 2015 sampai dengan 2019, total ekspor Indonesiake EFTA mencapai sekitar USD 6,3 miliar, atau rata-rata USD 1,2 miliar per tahun. Sebaliknya,impor Indonesia mencapai USD 4,9 miliar dalam jangka waktu yang sama, atau rata-rata USD 996 juta per tahun. Dengan IE-CEPA, akan ada sekitar 6000 sampai dengan8000 jenis barang yang tarifnya akan dihapuskan di masing-masing negara EFTA bagi barang dari Indonesia, dan sebaliknya. Yang menarik, selama ini sekitar 66,3% ekspor Indonesia ke EFTA tercatatdatang dari Jawa Timur, diikuti oleh Kepri (13,6%) dan Jawa Barat (5,0%). Artinya,dalam waktu dekat para pengusaha –termasuk UKM –di Jatim akan menikmati manfaat penurunan tarif bea masuk ke EFTA.Kembali ke urusan referendum di Swiss. Sebenarnya secara politik formal Kesepakatan Ekonomi Komprehensif dengan semua anggota EFTA –termasuk Swiss –sudah selesai.

 Pemerintah Swiss sudah menerima, partai-partai politik diparlemen juga sudah menerima. Tetapi sistem ketatanegaraan Swiss memang mengharuskan bahwa kesepakatan serupa IE-CEPA itu harus ditanyakan ke rakyat. Jadi,mereka memang harus dilakukanReferendum. Apalagi,ternyata masih ada kelompok masyarakat Swiss yang menentang CEPA tersebut. Isu yang diangkat terutama adalah soal keberlanjutan (sustainability) dan –lagi-lagi –yang dipermasalahkan adalah sawit. Padahal impor produk sawit Indonesia oleh Swiss sangat kecil, tidak sampai 0,01?ri total impor Swiss dari Indonesia tahun 2019.

Sebenarnya Norwedia dan Islandia adalah negara-negara ‘kelas berat’ dalam berbagai isu ‘sustainability’ dan sangat kuat mengedepankan prinsip keberlanjutan. Mereka sudah sepenuhnya menerima CEPA dengan Indonesia, termasuk soal perdagangan produk sawit ke negara-negara itu. Jadi sebenarnya, kemampuan Indonesia dalam membangun dan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam perekonomian –termasuk sawit –sudah mereka akui.

Tentu dengan masih tetap terus perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan, sebagainya juga diberbagai negara lain, bahkan termasuk di Norwegia dan Islandia sendiri. Dengan argumentasi ini saja seharusnya masyarakat Swiss tidak perlu ragu lagi.

Survey pra jajak pendapat terakhir menunjukkan bahwa 51% rakyat Swiss akan mengatakan ‘ya’ pada kerjasama dengan Indonesia, sekitar 34% mengatakan ‘tidak’, dan masih sekitar 15% yang belum memutuskan. Mereka yang menolak umumnya adalah penduduk Swiss berdekatan dengan Prancis, sedangkan di wilayah yang berbatasan dengan Jerman umumnya mengatakan ‘ya’.

Hasil tersebut memberi harapan, tetapi masih belum boleh membuat kita lengah. Kita beruntung bahwa tim diplomasi kita di Swiss, dipimpin oleh Dubes Muliaman Hadad –mantan Ketua OJK, mantan Ketua Umum ISEI -handal dan meyakinkan.Kita tentu harus bersiap dengan hasil dari Referendum di Swiss itu.

Apapun hasilnya, Swiss tidak akan lagi hanya dikenal sebagai negara dengan foto-foto pemandangan alam Alpen yang indah, atau produk jam, coklat dan kejunya, atau sebagai negara asal sang juara Grand Slam Tennis 20 kali Roger Federer; tetapi juga akan dikenal sebagai negara yang rakyatnya melakukan Referendum tentang kerjasama ekonomi mereka dengan Indonesia.

“Nama Indonesia seolah akan bergema di gunung-gunung Alpen yang bersalju itu. Semoga hasilnya membawa kesejahteraan bagi rakyat dua negara,” tutup Khrisnamurti.

Reporter : Sulha
Editor : Sulha Handayani