Netral English Netral Mandarin
17:59wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Waspadai Penyakit Pasca Banjir Besar di Tengah Pandemi Covid-19

Kamis, 21-January-2021 17:15

Berbagai kendala dihadapi masyarakat pasca banjir.
Foto : BNPB
Berbagai kendala dihadapi masyarakat pasca banjir.
11

DEPOK, NETRALNRAWS.CAOM - Ditengah bencana Pandemi yang masih terus meningkat ekskalasi kasusnya di Indonesia, kita mendengar bencana banjir bandang di Kalimantan Selatan yang hampir mengenai 10 kabupaten/kota. Banjir ini merupakan banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir. Bencana banjir Kalimantan Selatan menyisakan pengungsian  ribuan orang.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Ari Fahrial Syam mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan setelah bencana banjir ini adalah berbagai  penyakit pasca banjir. Penyakit pasca banjir adalah berbagai penyakit yang jumlah kasusnya akan meningkat setelah banjir.

“Secara umum peningkatan kasus penyakit ini didasarkan pada penyebaran 3 kelompok panyakit tersebut yaitu penyebaran melalui makanan dan minuman, penyebaran melalui nyamuk dan penyebaran melalui tikus. Anak-anak merupakan kelompok rentan yang mudah terkena penyakit pasca banjir,” katanya, dalams iaran persnya, Kamis, (21/1/2021).

Selain penyakit pasca banjir, kondisi lingkungan begitu pula kondisi daya tahan tubuh  juga berpengaruh. Terganggunya kesehatan akibat banjir terjadi karena adanya gangguan pada 3 faktor penting penyakit, yaitu faktor host, lingkungan, dan agen. Ketika terjadi pengungsian akibat banjir, kondisi kebersihan lingkungan, makanan dan minuman yang dikonsumsi pengungsi sangat tidak memadai sehingga akan berpengaruh pada daya tahan tubuh para pengungsi. Selain itu, para pengungsi tidur dengan alas yang tidak memadai.

Kondisi ini meningkatkan kerentanan para pengungsi terhadap penyakit-penyakit pascabanjir. “Cuaca yang tidak mendukung saat ini juga dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang walaupun tidak terkena langsung dampak banjir. Belum lagi kita musti perhatikan bahwa sangat sulit dalam kondisi seperti ini protocol Kesehatan tidak bisa dilakukan secara optimal sehingga berpotensi untuk meningkatkan kasus Covid-19 diantara para pengungsi,” jelas Ari.

Kemudian faktor lingkungan yang dapat memperburuk kondisi masyarakat adalah faktor cuaca, di mana hujan dan angin kencang kadang masih timbul di daerah bencana. Dampak buruk ini terutama dialami oleh bayi, anak-anak, dan orang tua. Belum lagi lingkungan sekitar banjir yang kotor dengan sampah bertebaran di mana-mana. Genangan air akan mengundang lalat dan kecoa dan hal ini berpotensi mencemari makanan dan minuman kita. Ketiga faktor bakteri atau agen pembawa penyakit yang banyak dijumpai akibat bencana banjir adalah lalat, tikus, bakteri dan kotoran yang menyebabkan tercemarnya air bersih.

“Tikus merupakan agen pembawa penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui kotoran dan kencing tikus yang bercampur dengan genangan banjir,” papar Ari.

Untuk itu ada beberapa hal yang harus diantisipasi sebagai antisipasi penyakit pasca banjir. Misalnya memperhatikan asupan konsumsi makanan dan minuman yang higienis. Perhatikan kadaluarsa dari makanan yang dikonsumsi baik makanan jadi maupun makanan yang dibuat sendiri.

“Diusahakan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan fresh. Cuci tangan pakai sabun atau hand antiseptic, untuk menghindari infeksi usus. Anak-anak harus diajari untuk selalu cuci tangan pakai sabun, tentu orang dewasa harus memberi contoh kapan dan bagaimana mencuci tangan dengan baik,” tambah Ari.

Kemudian, kebersihan lingkungan harus selalu terjaga dan segera bersihkan lokasi pasca banjir dengan menggunakan antiseptik dan tetap memperhatikan pelindung diri bagi orang yang bertugas membersihkan kotoran khususnya lumpur pasca banjir tersebut. Pelindung diri meliputi masker, sarung tangan dan memakai sepatu boot. Hindari luka yang dapat berpotensi masuknya kuman. Untuk anak-anak dan orang tua diberikan suplemen yang berisi multivitamin dan mineral apabila terjadi keterbatasan makanan dan minuman dengan zat gizi yang lengkap yang bisa dikonsumsi sehari-hari akibat rumah dan lingkungan terkena banjir.

“Perlu stok obat-obat sederhana, obat penurun panas, obat anti diare, obat sakit kepala dan oralit. Anak-anak harus dicegah untuk tidak bermain-main di air banjir baik karena potensi gangguan kesehatan maupun risiko terbawa arus atau tenggelam pada air banjir,” kata Ari.

Pandemi covid-19 masih berlangsung masyarakat berdampak bencana tetap diingatkan untuk memakai masker, selalu mencuci tangan/hand sanitizer dan menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Untuk  pengungsi yang sakit dan dicurigai karena Covid-19 harus segera di isolasi.

“Tujuan dari tindakan ini semua tentunya untuk mencegah agar kita semua terhindar dari penyakit pasca banjir yang sewaktu-waktu bisa mengenai siapa saja terutama anak-anak kita. Dan diusahakan hal ini juga  bisa mencegah agar peningkatan kasus Covid-19 dapat terkendali,” pungkas Ari.

 

 

Reporter : Sulha
Editor : Sulha Handayani