Netral English Netral Mandarin
banner paskah
06:20wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Inilah Jejak Pengkhiantan dan Kebengisan Manusia di Bekas Kerajaan Katolik di Indonesia

Kamis, 01-April-2021 15:22

Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur, diusulkan menjadi kota suci bagi umat Katolik di Indonesia
Foto : CNN Indonesia
Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur, diusulkan menjadi kota suci bagi umat Katolik di Indonesia
26

LARANTUKA, NETRALNEWS.COM - Dalam kondisi normal tak ada wabah COVID-19, saat sambut perayaan Paskah adalah masa sangat meriah di Ralantuka. Setelah 40 hari menjalani aksi puasa dan berpantang, akan ada ritual mengenang peristiwa pengkhianatan, penderitaan, penyiksaan anak manusia bernama Yesus yang menjadi kurban kekuasaan dunia.

Dalam kepercayaan umat Kristiani, sosok Yesus yang menjadi korban kebengisan tentara Romawi dan bangsa Yahudi adalah suatu tugas yang harus dituntaskan Yesus dalam mengejawantahkan ajaran Cinta Kasih secara total.

Dan Yesus lulus sempurna setelah sekitar delapan jam mengalami penganiayaan amat sangat menyakitkan mulai dari dikhianati, ditangkap tentara Romawi, dipukul, dihina, diludahi, ditampar, dicambuk, dicincang punggungnya, diarak, diseret, dipaku tangan dan kakinya, dan ditombak lambungnya.

Tubuh lelaki itu konon menjadi sosok yang tak lagi menyerupai manusia. Kulit dan dagingnya terkoyak. Dan itulah harga ajaran yang harus ia tegakkan: Cinta Kasih yang penuh pengampunan, memaafkan dengan memberikan nyawa bagi keselamatan umat manusia.

Sengsara yang ditanggung Yesus membuatnya menjadi satu dengan Tuhan. Proses bersatunya anak Manusia bernama Yesus dengan Tuhan Sang Penguasa Alam Semesta dirayakan dalam puncak perayaan Paskah yaitu perayaan mengenang peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian.

Tentunya, ritual sakral ini bukanlah hal asing bagi umat Kristiani. Apalagi umat Katolik yang tinggal di daerah  Nusa Nipa, atau Pulau Naga (bahasa lokal), atau Pulau Cabo de Flores (bahasa Portugis), atau Galiyao (dalam Negarakertagama), atau kini bernama Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Satu-satunya Kerajaan Katolik di Indonesia

Di daerah ini tradisi beraroma ajaran Katolik sangatlah kental. Selain karena mayoritas pendudukanya adalah para penganut agama Katolik, di pulau ini juga pernah berdiri kerajaan Katolik satu-satunya di Indonesia yaitu Kerajaan Larantuka.

Cikal bakal Kerajaan Larantuka sebenarnya sudah dimulai sejak sebelum ada pengaruh agama Katolik. Dalam cerita lisan, leluhur warga Larantuka adalah bernama Wehale Waiwiku.

Ia adalah tokoh pemersatu yang konon mampu menikahi seorang perempuan yang memiliki kekuatan magis dari Gunung Ile Mandiri.

Kemudian pada abad ke-16, mendaratlah bangsa Portugis ke Flores. Kedatangan mereka disambut baik bahkan berhasil membabtis tokoh-tokoh di Larantuka. Seluruh penduduk negeri yang dahulu terkenal sebagai penghasil kayu cendana itu kemudian dikatolikkan.

Dan berdirilah Kerajaan Larantuka. Raja pertama bernama Lorenzo I. Selanjutnya, ciri khas para raja Larantuka adalah menggunakan nama babtis di samping gelar dan nama asli. Marga yang digunakan biasanya Diaz Viera de Godinho (DVG) dengan gelar Don.

Dalam sistem feodal, tentu saja peranan raja sangat menentukan. Dalam setiap kegiatan ritual dan adat, raja Larantuka tampil sebagai pemimpin. Ia dipercaya sebagai sosok yang berhak membuka pintu Kapela Tuan Ma, yaitu tempat pelaksanaan segala upacara di Larantuka.

Demikianlah Kerajaan Katolik itu tetap berdiri hingga sekitar tahun 1859. Ketika kekuatan kolonial Belanda datang dan kekuatan Portugis kalah bersaing, Kerajaan Larantuka juga terkena imbasnya.

Dan saat Pemerintah Belanda menyengkeram Nusantara, Kerajaan Larantuka dibubarkan. Namun, walaupun sudah bubar, segala yang menyangkut tradisi, adat, ritual di bekas wilayah kerajaan Larantuka, mampu bertahan hingga kini.

Ritus dan tradisi keagamaan

Walaupun corak kehidupan masyarakat Larantuka sangat kental dengan ajaran Katolik, namun sebenarnya ada beberapa unsur di dalamnya, merupakan ritual adat peninggalan asli para leluhur Larantuka. Salah satunya adalah ritual persembahan hewan ternak dalam setiap upacara tradisional.

Tradisi korban hewan ternak adalah wujud penghormatan dan permohonan berkah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di sisi lain, persembahan itu juga dipercaya bisa meramalkan masa depan.

Dahulu kala, ritus korban hewan dimulai sejak Raja Sira Demong Pagong Molang. Ritus diadakan di setiap kampung (Lewo). Ritus diselenggarakan oleh “panitia empat” atau empat suku raja (Ama atau Wung). Nama keempat suku itu adalah Ama Koten, Ama Kelen, Ama Marang, dan Ama Hurint.

Setiap suku raja itu bertanggungjawab melaksanakan semua acara ritual. Namun, dalam ritus pengorbanan hewan, Ama Koten memegang peranan paling penting. Dialah kepala dari "panitia empat".

Ritual Semana Santa

Selain ritus pengorbanan hewan yang lahir sebelum ada pengaruh agama Katolik, masyarakat Larantuka juga memiliki tradisi yang berasal dari ajaran Katolik. Tradisi itu biasanya rutin diselenggarakan di ujung Timur Pulau Flores.

Setiap merayakan Paskah, ada rangkaian prosesi yang rutin diselenggarakan di tempat itu. Ritual itu adalah Semana Santa yang antara lain terdiri dari prosesi Rabu Trewayang, Kamis Putih (mengenang pengkhianatan Yudas Iskariot) dan prosesi Jumat Agung di Reinha Rosari Larantuka.

Saat tiba hari Rabu Trewayang, sejak pagi hari, semua penduduk di Larantuka hening. Kota itu berubah menjadi kota berkabung.

Sementara pada malam harinya, ada ritual bebunyian mengenang Yesus yang dibelenggu para serdadu Romawi setelah dikhianati salah seorang muridnya.

Pada perayaan Kamis Putih, suasana kota akan benar-benar menjadi sunyi dan sepi. Pada Kamis sore hari, akan diadakan upacara Tikam Turo, yaitu prosesi menanam lilin di sepanjang ruas jalan yang akan digunakan sebagai jalur mengenang penyaliban Yesus.

Dan ketika tiba hari Jumat Agung atau Sesta Vera, pintu Kapel Tuan Ma dan Kapel Tuan Ana dibuka. Di kapel itu terdapat patung Bunda Maria yang sudah berumur ratusan tahun. Umat Katolik berdatangan untuk berdoa di tempat itu.

Selanjutnya, patung itu diarak dari Kapel Tuan Ma menuju Kapel Tuan Ana untuk disandingkan bersama patung Yesus. Kemudian, kedua patung diarak bersama oleh seluruh umat menuju Gereja Katedral Renha Rosari Larantuka.

Dari Katedral berlanjut lagi menuju Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce, kawasan Istana Raja Larantuka. Di pantai ini, prosesi dilaksanakan dengan menggunakan perahu motor. Umat yang mengikuti prosesi juga menaiki perahu motor.

Demikianlah rangkaian ritual Semana Santa di Larantuka yang kini telah dijadikan sebagai salah satu wisata religi Nusantara. Dengan cara itu, Flores berhasil menjadi salah satu simbol keunikan, keberagaman, kekayaan budaya, agama, suku di Indonesia.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto