Netral English Netral Mandarin
banner paskah
23:05wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Inilah Destinasi Wisata Menarik di Aceh

Jumat, 26-Maret-2021 16:00

Masjid Raya jadi kebanggaan masyarakat Aceh.
Foto : Antara
Masjid Raya jadi kebanggaan masyarakat Aceh.
16

BANDA ACEH, NETRALNEWS.COM - Menikmati wisata di Aceh, bukan hanya menyaksikan keindahan Masjid Rayanya saja. Aceh banyak menyimpan keindahan alam yang tak ditemui di destinasi wisata tempat lain.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Jamaluddin mengatakan bahwa pihaknya tengah mengembangkan potensi wisata di Pulau Banyak, yang terletak di Aceh Singkil.

"Pulau Banyak terdiri dari 63 pulau yang berada di dekat ujung perbatasan Aceh dan Sumatra Utara. Ia memiliki taman laut yang indah sekali, dan ombaknya juga cocok untuk surfing," kata Jamaluddin.

Ia mengatakan bahwa Disbudpar bersama Pemerintah Daerah Aceh Singkil berkolaborasi untuk menawarkan dan mengembangkan potensi dan titik-titik wisata di Singkil dan Pulau Banyak. Selain laut yang indah, Pulau Banyak juga memiliki gugusan pulau yang tak kalah cantik.

Keindahan bawah laut perairan di Aceh. (Dok:Antara)

Ketika disinggung mengenai akses, Jamaluddin mengatakan terdapat sejumlah pilihan untuk berkunjung ke Pulau Banyak, mulai dari jalur darat hingga udara.

Dari Banda Aceh, wisatawan dapat menggunakan angkutan umum untuk menuju ke Singkil. Dikutip dari siaran Dinas Perhubungan Provinsi Aceh, pelancong dapat membeli tiket di terminal Batoh dan Lueng Bata, dengan harga Rp220-250 ribu.

Namun, jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, juga memungkinkan. Untuk menuju ke sana, dengan jarak 646 dengan waktu tempuh lebih kurang 12 jam 46 menit. Selain itu, pelancong bisa juga bertolak dari Medan menggunakan kendaraan pribadi dengan jarak 268 km dan waktu tempuh sekitar 7 jam 24 menit.

Kini, Singkil bisa juga diakses melalui moda transportasi udara. Caranya adalah dengan memesan penerbangan ke Bandara Kualanamu, setelah tiba di sana, wisatawan bisa menyewa mobil travel untuk menuju ke Singkil.

Dari sana, pelancong dapat menuju langsung ke pelabuhan ferry dan pelabuhan tambat boat di Jembatan Tinggi Pulo Sarok, dan bisa memilih untuk melaju menggunakan kapal ferry, boat tradisional atau speed boat untuk menuju ke Pulau Banyak.

Di sisi lain, Aceh Singkil sebenarnya sudah memiliki sebuah bandar udara, bernama Bandara Syekh Hamzah Fansuri di Kampung Baru, Singkil Utara.

Tahun lalu, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan meminta Kementerian Perhubungan untuk menambah panjang landasan pacu (runway) di bandara tersebut, setidaknya 1.200-2.000 meter. Hal ini diupayakan aga pesawat seperti ATR dan Bombardier bisa mendarat di sana.

Ini juga diharapkan dapat membuka akses Kualanamu-Singkil-Nias, Silangit-Singkil, Singkil-Banda Aceh, Singkil-Jakarta, dan Kualanamu-Singkil-Simelue. Menurut Menko Luhut, ini juga bisa menunjang wisata Danau Toba sebagai salah satu destinasi superprioritas, serta mengenalkan objek wisata di Singkil, termasuk Pulau Banyak.

Menanggapi hal tersebut, Kadisbudpar Aceh Jamaluddin berharap dengan terbukanya akses, bisa benar-benar mendorong potensi wisata di daerah tersebut.

"Sekarang sudah cukup ramai, namun memang kendalanya ada di akses. Dari Medan 8 jam, dari sini (Banda Aceh) 16 jam. Sekarang tengah berproses dengan Kemenhub untuk memperpanjang runway bandara di Singkil. Dan jika sudah selesai, diharapkan akan banyak turis yang datang dan mengenal Singkil," kata dia.

Jamaluddin menambahkan bahwa pihaknya memiliki sejumlah target demi kembali mendorong sektor pariwisata dan ekonomi daerah, salah satunya adalah melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor tersebut.

"Kita harapkan selain kunjungan wisata, targetnya tahun ini juga pengembangan SDM pariwisata. Sudah banyak pelatihan dan kami meminta dukungan Kemenparekraf untuk mendidik guide dan kelompok-kelompok desa wisata," kata Jamaluddin beberapa waktu lalu.

"Selain memperkuat SDM, kami juga akan memperkuat dari sisi protokol kesehatannya. Kita wajibkan (pengelola destinasi wisata) untuk menerapkan protokol kesehatan CHSE," ujarnya menambahkan.

Sebagai informasi, CHSE adalah penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) dari Kemenparekraf untuk sektor pariwisata di masa pandemi.

Lebih lanjut, Jamaluddin mengatakan bahwa sektor pariwisata di Serambi Makkah sudah mulai pulih secara perlahan namun pasti. Sebelumnya pada Maret 2020, di mana kasus positif COVID-19 pertama hadir di Indonesia, Aceh sempat menutup akses penerbangan dan tempat-tempat wisata dan kulinernya.

"Di awal pandemi di bulan Maret, penerbangan ke Aceh ditutup, dampaknya signifikan bagi para pelaku pariwisata di Aceh dan tempat-tempat kuliner. Pantai-pantai juga ditutup, kedai kopi tutup kurang lebih satu bulan setengah. Tidak ada aktivitas, masyarakat berdiam diri di rumah, namun kami mulai buka lagi dengan menerapkan protokol kesehatan," jelas Jamaluddin.

Namun kini, di awal 2021, Aceh telah menerima wisatawan lokal maupun domestik Nusantara. "Perkembangan di awal tahun 2021, pariwisata di Aceh sudah bangkit kembali, terutama untuk wisatawan domestik Nusantara dan lokal atau warga Aceh sendiri."

"Ini juga karena penurunan angka warga yang terpapar COVID di Aceh semakin turun. Seiring dengan itu, Pemda Aceh menyambut baik untuk kembangkan ekonomi masyarakat lewat acara lokal seperti Aceh Travel Mart untuk bangkitkan dunia pariwisata kembali," jelas dia.

Wisata outdoor banyak diminati turis. (Dok:Antara)

Saat disinggung mengenai prioritas pengembangan destinasi wisata di Aceh dalam waktu dekat, Jamaluddin mengatakan pihaknya berfokus ke wisata alam, wisata bahari dengan berbagai aktivitas dan olah raganya, lalu wisata kuliner, hingga budaya.

"Pertama, kami berfokus ke wisata bahari, ada taman laut yang indah sekali di Sabang. Selain itu ada juga dataran tinggi Gayo, sekitar 6 jam dari Banda Aceh. Di sana punya view yang bagus didukung dengan perhotelan yang memadai. Banyak pilihan kuliner yang luar biasa, membuat perjalanan jadi tidak terasa. Kita fokus ke Sabang, Banda Aceh dan sekitarnya, dan Aceh Tengah," papar Jamaluddin.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa baru-baru ini, pihaknya mulai mengembangkan titik wisata di Pulau Banyak yang terletak di Aceh Singkil. "Pulau Banyak terdiri dari 63 pulau yang berada di dekat ujung perbatasan Aceh dan Sumatra Utara. Ia memiliki taman laut yang indah sekali, dan ombaknya juga cocok untuk surfing," kata Jamaluddin.

Reporter :
Editor : Sulha Handayani