Netral English Netral Mandarin
banner paskah
07:22wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Ini Prediksi Pengamat Soal Kans Koalisi NasDem-Golkar di Pilpres 2024, PKS Bisa Gabung

Selasa, 02-Maret-2021 11:15

Pengamat politik Wempy Hadir
Foto :
Pengamat politik Wempy Hadir
21

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat politik Wempy Hadir berpendapat, pertemuan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh di Pulau Kali Age, Kepulauan Seribu, Minggu (14/2/2021) lalu, bisa menjadi pembicaraan awal menuju koalisi Pilpres 2024. 

Apalagi, lanjut Wempy, kabarnya pertemuan kedua tokoh tersebut juga membahas soal konvensi capres 2024 yang akan dilakukan oleh kedua partai. 

Terkait hal itu, Wempy memberikan pendapatnya soal peluang NasDem dan Golkar berkoalisi dan kemungkinan menggandeng PKS untuk mengusung capres-cawapres di Pilpres 2024 nanti. 

Wempy memprediksi, jika konvensi berhasil dilakukan, maka posisi calon wakil presiden akan diberikan kepada Partai Golkar. Dalam hal ini, ia menilai Ketum Golkar Airlangga Hartanto mempunyai peluang untuk menjadi cawapres. 

"Sebagai ketua umum, Airlangga Hartanto mempunyai privilege untuk menjadi cawapres. Tinggal menunggu hasil konvensi capres nanti jatuh ke siapa," kata Wempy dalam keterangan tertulisnya yang diterima netralnews.com, Selasa (2/3/2021). 

Menurutnya, secara elektoral, Golkar dan NasDem mempunyai kekuatan 25,4 persen kursi DPR, dan jika PKS juga akan ikut bergabung, maka secara elektoral ketiga parpol ini mempunyai 34,1 persen kursi DPR. 

"Itu artinya mereka sudah layak secara undang-undang untuk mengusung paket capres dan cawapres pada Pilpres 2024 nanti," ujar Direktur Eksekutif Indopolling Network itu. 

Namun demikian, Wempy menyebut jika pilpres masih jauh, dan bisa saja apa yang dilakukan oleh NasDem dan Golkar hanyalah manuver politik semata untuk menaikan posisi tawar mereka dalam koalisi yang ada hari ini. 

"Apalagi kedua partai tersebut merupakan mitra koalisi pemerintah saat ini. Jadi menurut saya rencana koalisi yang dibangun masih sangat rapuh ditengah partai masih membutuhkan posisi kekuasaan dalam kabinet Jokowi-Maruf Amin," ungkapannya. 

Terbukti, tambah Wempy, saat pembahasan RUU Pemilu, awalnya NasDem dan Golkar getol mendorong revisi, tapi dalam perjalanan setelah dilakukan komunikasi dengan presiden Jokowi, semua berbalik arah. 

"Bisa saja pembahasan konvensi dan koalisi NasDem-Golkar akan bubar di tengah jalan jika tidak kuat menghadapi dampak politis dari koalisi yang dibangun terlalu dini tersebut," terangnya. 

"Bisa saja Jokowi akan merapihkan kembali kabinetnya dan membuang partai-partai yang tidak sejalab lagi menuju 2024. Jika itu yang terjadi, maka Nasdem dan Golkar perlu bekerja keras untuk melakukan konsolidasi politik," pungkas Wempy. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli