Netral English Netral Mandarin
banner paskah
23:27wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Ini Bukan Tiket untuk Tinggalkan Protokol Kesehatan

Minggu, 17-January-2021 10:17

Presiden Jokowi dan Raffi Ahmad
Foto : Republika
Presiden Jokowi dan Raffi Ahmad
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pastinya ada senyum puas mengembang dari wajahnya, tetapi semua orang yang ada di Champions Golf Club di Houston kala itu tidak melihatnya kecuali gerak mata yang makin menyipit dan pipi mengembung yang menjadi ciri umum orang yang lagi tersenyum atau tertawa.

Mencetak tiga birdie berturut-turut untuk mengakhiri babak final yang sekaligus memastikan dia merebut gelar turnamen golf putri sangat bergengsi US Women's Open 15 Desember tahun lalu itu semestinya membuat atlet ini bahagia sehingga bolehlah barang sejenak melepaskan maskernya demi memamerkan senyum puasnya kepada kamera.

Tapi pegolf putri ini tak mau melakukannya. Sepanjang lomba di padang luas yang tak mungkin orang berkerumun sehingga tak apalah masker dilepas dan apalagi selalu ada tes COVID-19 setiap kali pertandingan dimainkan, A Lim Kim, nama sang atlet, tak pernah mau menanggalkan masker, barang sejenak pun.

Padahal hampir semua cabang olahraga yang melanjutkan lagi turnamen atau kompetisi setelah dihentikan oleh pandemi virus corona, tidak mewajibkan atlet bermasker saat bertanding atau berlomba, apalagi cabang-cabang olahraga yang mustahil bisa menghindarkan kontak fisik seperti sepakbola, basket atau tinju.

Pegolf-pegol yang lain juga berlaku seperti atlet-atlet lain dari cabang olah raga lain. Tetapi A Lim Kim beda.

Media bertanya mengapa dia tak mau melepaskan masker saat berlomba, padahal padang golf adalah tempat sangat lapang yang rasanya sulit sekali manusia kontak fisik sekerap atlet-atlet sepak bola, apalagi bergerombol, belum lagi protokol kesehatan setiap waktu diterapkan sebelum lomba dimainkan.

A Kim Lim yang berasal dari negeri yang mewajibkan masyarakatnya mengenakan masker saat di tempat umum itu menjawab, "Saya tak apa-apa jika dites positif terjangkit COVID-19, tetapi saya tak ingin membahayakan orang lain, pemain lain, caddie yang turut bermain dalam kelompok ini, jadi itulah alasan saya mengenakan masker sepanjang waktu.”

Rupanya orang lain yang lebih dia khawatirkan. Sebagai public figure dia tahu ada tanggung jawab yang melekat pada dirinya untuk memberi contoh, paling tidak peduli kepada protokol kesehatan yang memang menjadi salah satu kunci sukses negaranya, Korea Selatan, dalam mengendalikan pandemi COVID-19.

Soal Korea Selatan ini sendiri adalah kisah yang selalu diceritakan media massa seluruh dunia tentang betapa social distancing dan wajib masker di tempat-tempat publik menjadi salah satu kunci keberhasilan negara ini dalam membendung pandemi.

Setia pada protokol kesehatan

“Sejak awal warga Korea Selatan menganggap sangat serius pandemi ini dan kebanyakan orang sudah mengenakan masker sebelum ada rekomendasi dari otoritas,” kata Park So-keel, direktur riset pada sebuah organisasi HAM yang berbasis di Seoul seperti diberitakan laman Deutsche Welle.

“Kami tak melihat ada sinisme dan penentangan terhadap pembatasan dan rekomendasi yang dikeluarkan pemerintah seperti terlihat di Barat.”

Paek Soo-jin yang dipaksa cuti bekerja pada sebuah perusahaan biro perjalanan di negeri itu menimpali, “Orang-orang mengenakan masker dan mematuhi pedoman-pedoman lainnya bukan hanya karena mereka tak ingin mati tetapi juga mereka tak ingin membuat sakit orang-orang di sekeliling mereka di dalam bus atau dalam toko atau di mana saja. Ini adab dan ini kebiasaan kami.”

Dengan sikap yang sudah menasional seperti itu, tak heran jika A Lim Kim yang menjadi juara dalam debutnya pada turnamen besar golf sekelas US Women's Open menunjukkan hasrat lebih dari sekadar memburu kejayaan di arena lomba.

KIm juga merasa memiliki tanggung jawab membumikan kepedulian dia kepada bahaya pandemi dan sekaligus mengajak masyarakat menyikapi pandemi ini dengan cara yang benar, dengan cara yang sudah direkomendasikan pakar-pakar yang memang ahli dalam soal penyakit menular, kesehatan dan pandemi.

Kim sendiri tak hanya terus bermasker saat bertanding karena dia juga melakukan itu sebelum masuk gelanggang. "Setiap waktu saya berlatih saya biasanya mengenakan masker, jadi saya sudah terbiasa."

Kim tak melakukan itu semua demi disorot kamera. Dia melakukannya karena sadar prilaku dan sikapnya bisa mempengaruhi orang lain. Dan memang pandemi membutuhkan prilaku yang berbeda sekaligus disertai pengetahuan, kepedulian dan keseriusan sehingga laku yang terpraktikkan bukan formalitas belaka.

Raffi Ahmad mengaku salah

Situasi berlainan terjadi di Indonesia. Adalah pesohor kelas atas negeri ini, Raffi Ahmad, yang membuat heboh ketika dia didapati menghadiri kerumunan pesta tanpa mengenakan masker tak lama setelah divaksinasi.

Raffi mengaku salah. Tetapi keharusan tetap setia kepada protokol kesehatan, apalagi untuk mereka yang dijadikan teladan demi menumbuhkan keyakinan orang kepada vaksin, semestinya sudah lama diketahui dan disadari.

Bagi sebagian orang kejadian seperti itu mungkin cetek saja, namun dalam kerangka perang melawan pandemi, insiden semacam itu tak bisa dianggap remeh. Bagaimana kalau orang-orang setelah Raffi melakukan apa yang dilakukannya? Karena merasa sudah dikebalkan oleh vaksin, maka begitu selesai divaksin, orang menganggap protokol kesehatan tak diperlukan lagi sehingga bebas menanggalkan masker di tempat umum atau kerumunan, apalagi sambil mengabaikan pedoman jaga jarak sosial.

Raffi sudah meminta maaf dan wajib dimaafkan. Tetapi menganggap mereka yang mengkritik dia, termasuk sejawat-sejawatnya sesama pesohor, sebagai berlebihan atau paranoid adalah salah besar.

Khawatir itu lebih baik daripada menganggap enteng pandemi karena faktanya pandemi telah merusakkan banyak hal, mulai dari merenggut hampir 25 ribu nyawa yang seharusnya bisa hidup lebih lama, membuat jutaan orang menganggur, memangkas keuntungan dunia usaha hingga banyak di antaranya gulung tikar, sampai merampas kebahagiaan hampir semua dari kita, termasuk kemewahan bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar dan sahabat yang sudah menjadi tradisi bangsa ini.

Malah perilaku yang dianggap paranaoid seperti itulah yang justru membuat tempat-tempat seperti Korea Selatan, Taiwan, China, Vietnam, Australia, dan Selandia Baru lebih dini dalam melandaikan grafik kasus sehingga energi nasional bisa dicurahkan juga kepada aspek-aspek lain termasuk menggerakkan lagi ekonomi.

Sebaliknya, grafik kasus infeksi dan tingkat kematian di Indonesia belum bisa terlandaikan. Ketidakpedulian dan ketidaktahuan yang dibarengi pemakluman dan pembiaran adalah di antara faktor yang turut membuat grafik sulit dilandaikan.

Sistem kesehatan termasuk rumah sakit, dokter dan tenaga medis lainnya sudah terbiasa menangani COVID-19 sehingga mestinya grafik terlandaikan jika masalahnya hanya soal kesehatan. Kenyataannya, grafik kasus tetap menanjak. Ini menunjukkan pandemi tak cukup hanya ditangani oleh dokter, perawat, obat dan rumah sakit, karena membutuhkan juga kepedulian, tanggung jawab dan disiplin masyarakat, selain aparat yang tegas.

Vaksinasi bukan tiket untuk meninggalkan protokol kesehatan

Insiden Raffi Ahmad juga mengingatkan bahwa program vaksinasi membutuhkan pula pedoman lain guna menegaskan vaksinasi bukanlah tiket untuk serta merta meninggalkan protokol kesehatan ketika bagian terbesar masyarakat belum terpastikan kebal dari penyakit itu.

Lebih dari itu hanya mengandalkan vaksin bisa membuat bangsa ini membuang kesempatan berharga untuk belajar bersama menghadapi situasi-situasi buruk seperti pandemi di masa datang, padahal belajar bisa membuat bangsa lebih siap menghadapi skenario-skenario terburuk yang terjadi di kemudian masa.

Korea Selatan, Taiwan dan Vietnam adalah contoh yang memetik pelajaran dari wabah-wabah sebelumnya seperti flu burung sehingga begitu pandemi COVID-19 bersiap merusakkan tatanan nasional lebih parah lagi, mereka sudah memiliki resep, prosedur, dan standard perlakuan untuk menangkalnya sehingga masalah lebih cepat teratasi.

Seperti kata pepatah, mencegah itu lebih baik ketimbang mengobati. “Sedia payung sebelum hujan”, bukan baru cari payung setelah basah kuyup diguyur hujan!

Penulis: Jafar M Sidik

Jurnalis Antara

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto