Netral English Netral Mandarin
banner paskah
14:34wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
IDI Ungkap Fakta Mutasi Virus COVID-19 N439K yang Masuk Indonesia: Tak Mempan Antibodi

Minggu, 14-Maret-2021 07:00

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban
Foto : Istimewa
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban ungkap fakta varian virus Covid-19 N439K.

Diketahui Prof Zubairi, sebanyak 48 kasus mutasi N439K telah terdeteksi di Indonesia. Kata dia, varian N439K diduga muncul dua kali secara terpisah. 

"Pertama kali itu di Skotlandia. Pada waktu awal pandemi. Lalu, kali kedua, dengan jangkauan lebih luas di Eropa—dan saat ini sudah sampai Indonesia," ujar dia, dikutip dari cuitannya, Minggu (14/3/2021).

N439K ini awalnya dianggap menghilang saat lockdown diberlakukan di Skotlandia. Tapi justru muncul di Rumania, Swiss, Irlandia, Jerman dan Inggris. Mulai November tahun lalu, varian ini dilaporkan menyebar secara luas.

"Yang paling disorot dari N439K adalah sifatnya yang resistans terhadap antibodi alias tidak mempan," ungkap Prof Zubairi.

Hal itu berlaku, baik itu antibodi dari tubuh orang yang telah terinfeksi, maupun antibodi yang telah disuntikkan ke tubuh kita.

Amerika Serikat mencoba antisipasi N439K ini. Mereka mengeluarkan EUA untuk dua jenis obat antibodi monoklonal dalam pengobatan Covid-19. 

"Tapi, yang jadi soal, N439K ini tidak mempan diintervensi oleh obat itu," tegas Prof Zubairi.

Dikatakan Direktur Senior Biologi Struktural di Vir Biotechnology California, Gyorgy Snell bahwa N439K punya banyak cara mengubah domain imunodominan untuk menghindari kekebalan (tubuh manusia), sekaligus mempertahankan kemampuannya untuk menginfeksi orang.

Namun, yang jadi catatan epidemiolog, penyebaran N439K tidak secepat B.1.1.7. Harapan Prof Zubairi, semoga ke depannya juga demikian. 

"Pesan saya. Tetap jaga jarak, pakai masker dan hindari kerumunan, apalagi di dalam ruangan. Jangan bosan saling ingatkan. Pandemi belum usai," pesan dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli