Netral English Netral Mandarin
banner paskah
19:45wib
Seorang anggota TNI AD berinisial DB luka-luka dan anggota kepolisian berinisial YSB tewas setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal. Sebuah survei yang diinisiasi Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan mayoritas pegawai negeri sipil (PNS) menilai tingkat korupsi di Indonesia meningkat.
HRS Sebut Jaksa Dungu Pandir, DS: Ngaku Cucu Nabi Mulut Gak Dijaga Bikin Malu Nabi, Angel Tuturanmu....

Selasa, 30-Maret-2021 19:15

Denny Siregar dan Habib Rizieq Shihab
Foto : Kolase Tribunews
Denny Siregar dan Habib Rizieq Shihab
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar ikut kesal dengan pernyataan Habib Rizieq Shihab yang menyebut Jaksa pandir dan dungu dalam sidang kasusnya. 

“Ngaku cucu Nabi, mau bikin revolusi ahlak.. Ahlaknya sendiri gak diperbaiki. Nuding orang dungu, pandir. Mulut gak dijaga. Bikin malu Nabi..,” kata Denny, Selasa (30/3/21). 

“Zik, zik... Angel tuturanmu...,” imbuh Denny.

Sebelumnya diberitakan, Habib Rizieq Shihab menyebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) dungu dan pandir karena persoalan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) FPI dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. 

Pernyataan HRS juga sempat dinilai pengamat peradilan Erwin Natosmal Oemar. Ia menyebut umpatan itu justru bakal merugikan Habib Rizieq dalam mengambil simpati hakim.

"Pernyataan Habib saya rasa masuk ke dalam ranah etis. Biarkan saja pernyataan ini menjadi ranah 'hakim' dalam melihat ekspresi dari Habib Rizieq. Yang pasti, pernyataan itu akan merugikan kepentingan Habib sendiri dalam mengambil simpati hakim," ujar Erwin melalui pesan singkat kepada detikcom, Jumat (26/3/2021).

Menurut Erwin, ungkapan dungu tersebut belum tepat masuk ke dalam hukum pidana. Umpatan dungu ke JPU, kata Erwin, masuk ke ranah etika.

"Harusnya hakim proaktif menegur Habib untuk tidak menggunakan istilah itu untuk menjaga marwah peradilan. Yang pasti pernyataan itu sedikit banyak akan mempengaruhi hakim dalam melihat kasus ini. Sulit untuk menolak fakta di lapangan bahwa variabel nonhukum semacam etika dan sopan santun menjadi salah satu pertimbangan hakim dalam membuat keputusan," lanjutnya.

Ahli hukum sekaligus mantan komisioner Komisi Yudisial (KY) Imam Anshari Saleh perkataan 'dungu' dan 'pandir' menyalahi kode etik. JPU, kata Imam, dapat melaporkan penghinaan itu.

"Jaksa bisa melapor ke polisi adanya penghinaan, dasarnya KUHP. Itu delik aduan," ucap Imam.

Habib Rizieq, dalam persidangan menyatakan bahwa SKT bukan merupakan kewajiban bagi sebuah ormas.

"Bahwa organisasi FPI sering melakukan pelanggaran hukum yang melibatkan anggota dan simpatisan FPI di berbagai daerah dengan bukti 13 kasus pelanggaran hukum oleh anggota dan simpatisan FPI," ujar Habib Rizieq dalam eksepsi yang diterima detikcom dari kuasa hukum Rizieq seusai sidang, Jumat (26/3/2021).

"Saya nyatakan di sini, pertama, bahwa SKT bukan kewajiban, tapi organisasi boleh mendaftar dengan sukarela, sehingga ormas yang tidak mendaftar sekalipun tetap sah sebagai sebuah organisasi, dan boleh melakukan kegiatannya selama belum dibubarkan atau dilarang oleh pemerintah," imbuhnya.

Habib Rizieq menyebut JPU dungu dan pandir karena persoalan SKT ini. Dia juga menyebut JPU menyebar hoax dan fitnah.

"Semua ormas baik yang punya SKT maupun tidak dilindungi oleh konstitusi dan perundang-undangan. Jadi di sini jelas, JPU sangat dungu dan pandir. Soal SKT saja tidak paham, lalu dengan kedunguan dan kepandirannya mencoba sebar hoax dan fitnah," ungkap Habib Rizieq dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto