Netral English Netral Mandarin
banner paskah
08:52wib
Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Selasa (13/4/2021). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Hoaks Jaksa Sidang HRS Terima Suap, Mustafa: Ini Operasi Senyap agar Eks FPI Ngeshare, Kena ITE, Diborgol Semua

Senin, 22-Maret-2021 09:35

Mustafa Nahrawardaya
Foto : Merdeka.com
Mustafa Nahrawardaya
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Mustafa Nahrawardaya menilai bahwa beredarnya video hoaks yang menyebut jaksa sidang kasus Habib Rizieq Shihab adalah bagian dari operasi agar anggota FPI yang telah dibubarkan ngeshare ramai-ramai sehingga bisa dijerat dengan UU ITE.  

“Ini operasi senyap. Agar orang2 eks FPI ramai-ramai ngeshare ini video. Agar kena ITE semua. Agar diborgol semua,” katanya seperti dinukil NNC, Senin 22 Maret 2021.

Cuitan Mustafa disampaikan untuk membalas pernyataan akun Mas Piyu @maspiyuaja ang mengatakan: “AWAS JEBAKAN!! Beredar HOAX Jaksa Kasus HRS Menerima Suap Rp 1,5 M, Disebar Oleh Akun @bujang_karung. Semoga @bujang_karung segera DITANGKAP,” ungkapnya.

Sementara secara terpisah diberitakan, Penyidik Bareskrim Polri akan mengusut video hoax jaksa penerima suap dalam sidang kerumunan dan tes swab Habib Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Polri akan segera melakukan penyelidikan.

"Ya dilidik," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi detikcom, Minggu (21/3/2021).

Video itu telah menyebar luas di media sosial dan menjadi viral. Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebut kejadian itu tidak benar.

Video tersebut menarasikan dengan voice over 'terbongkar pengakuan seorang jaksa yang mengaku menerima suap kasus sidang Habib Rizieq Shihab, innalillah, semakin hancur wajah hukum Indonesia'. Video itu berdurasi 48 detik dengan menampilkan wawancara wartawan dengan seorang jaksa yang belakangan diketahui Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (NTT) Yulianto.

Potongan video itu memunculkan interaksi wawancara antara jaksa Yulianto dengan wartawan.

'Berapa yang ditangkap, Pak?' kata wartawan.'Satu yang kita tangkap jaksa AM, yang kedua adalah AF, pemberinya,' kata jaksa Yulianto.'Nominalnya?' sahut wartawan.'Nominalnya 1,5, uangnya dalam bentuk pecahan rupiah dan pecahan rupiah Rp 100 ribu dan pecahan Rp 50 ribu,' kata jaksa.'Ditemukan di?' lanjut wartawan itu.'Ditemukan di tempat kos oknum jaksa,' ungkap jaksa mengakhiri.

Kejagung lantas memberikan penjelasan. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyebut peristiwa dalam video itu terjadi pada November 2016. Leonard menerangkan, video itu tidak berkaitan dengan peristiwa sidang Habib Rizieq.

"Bahwa video penangkapan seorang oknum jaksa oleh tim saber pungli Kejaksaan Agung adalah peristiwa yang terjadi pada bulan November tahun 2016 yang lalu dan bukan merupakan pengakuan jaksa yang menerima suap kasus sidang Habib Rizieq Shihab," kata Leonard.

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud Md turut menanggapi perihal video hoax yang menarasikan seorang jaksa menerima suap pada sidang kerumunan dan tes swab Habib Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Mahfud menyebut penyebar video hoax itu bisa diusut walaupun bukan termasuk delik aduan.

"Sengaja memviralkan video seperti ini tentu tentu bukan delik aduan, tetap harus diusut," cuit Mahfud dalam akun Twitter resminya, Minggu (21/3/2021).

Mahfud menerangkan, pihaknya akan menelaah dan membuka kemungkinan untuk merevisi UU ITE untuk menghilangkan pasal karet yang termaktub di dalamnya. Mahfud menyebut hal itu dilakukan agar masyarakat bisa membedakan mana delik aduan dan delik umum.

"Tetapi kita tetap akan menelaah kemungkinan revisi UU ITE untuk menghilangkan potensi pasal karet dan membedakan delik aduan dan delik umum di dalamnya," ungkapnya dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto