Netral English Netral Mandarin
21:43wib
Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melarang kegiatan buka puasa bersama saat ramadan seiring dengan pandemi Covid-19. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan melarang total operasi semua moda transportasi darat, laut, udara, kereta pada 6 Mei-17 Meri 2021.
Hari Kanker Sedunia, Kemenkes Jabarkan Faktor Risiko Hingga Cara Mencegahnya

Kamis, 04-Februari-2021 21:10

Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Cut Putri Arianie
Foto : Kementerian Kesehatan
Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Cut Putri Arianie
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pada peringatan Hari Kanker Sedunia, Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Cut Putri Arianie menjabarkan berbagai faktor risiko hingga cara mencegah dan deteksi dini kanker.

Dia sebut, setidaknya ada lima faktor risiko terjadinya kanker. Diantaranya adala gaya hidup, lingkungan, pelayanan kesehatan, genetik, dan adanya faktor yang tidak diketahui.

“Beberapa faktor risiko terjadinya kanker adalah gaya hidup. Lingkungan juga mempengaruhi dan pelayanan kesehatan. Jadi seberapa dekat orang mengakses pelayanan kesehatan dan mudah di jangkau atau tidak,” kata dr Cut dalam acara temu media memperigati Hari Kanker Sedunia Tahun 2021 yang diadakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara virtual, Kamis (4/2/2021).

Cut juga mencontohkan salah satu kasus faktor risiko dari lingkungan. Misalnya saja orang yang berada atau bekerja di lingkungan yang memiliki zat─zat korosif, kemudian disertai dengan kebiasaan tidak mengenakan pakaian pelindung standar dalam jangka waktu yang lama, sehingga bisa berdampak pada kesehatan. “Jadi lingkungan sosial, budaya, ekonomi sangat mempengaruhi,” sambung dia.

Belum lagi dengan trend digitalisasi, seperti menggunakan gawai. Keadaan itu memudahkan orang mendapatkan semua kepeluan, misalnya saja makanan dan perilaku sedentary life meningkat. Diakui dr Cut, diperlukan regulasi untuk merubah pola hidup yang bersifat turunan seperti skrining berjangka.

Tidak hanya itu, tingginya konsumsi Gula, Garam, Lemak (GGL) juga dinilai mempengaruhi. Harapannya ada regulasi yang bisa diterapkan oleh industri makanan agar memenuhi standar kesehatan pada produksinya. Meski dr Cut akui, memang saat ini sudah banyak beredar produk yang memperhatikan faktor kesehatan seperti produk rendah gula sehingga masyarakat bisa teredukasi dan merubah perilaku.

Terkait dengan gaya hidup, menurut dr Cut, penting untuk melakukan perubahan perilaku dan mencegah faktor risiko. Sedangkan pada faktor risiko kanker seperti genetik dan faktor risiko yang tidak diketahui, agar dilakukan skrining sesuai dengan kesadaran pribadi.

Pernyataan ini disampaikan dr Cut, pasalnya di 2040, diprediksi akan ada sebanyak 29,5 juta kasus kanker baru dan 16,3 juta kematin. Dengan demikian, setiap 1,1 detik, akan ada satu orang yang terdiagnosa kanker dan setiap dua detik, akan ada satu orang yang meninggal dunia karena kanker. Selain itu, 70 persen kanker ternyata terjadi di negara dengan Low Middle Income, salah satunya Indonesia.

Pada wanita kasus kanker tertinggi terjadi pada jenis kanker payudara, sedangkan pada laki─laki, kasus tertinggi terjadi pada jenis kanker paru─paru. Apabila dilihat berdasarkan data global, kasus kanker payudara masih menjadi urutan kasus terbanyak di dunia, diikuti oleh kanker serviks, kemudian kanker paru─paru menempati posisi ketiga. “Dan 70 persen kasus terdeteksi pada pasien dengan stadium lanjut,” tegas dia.

Terkait dengan kanker anak, kasus leukimia masih menjadi yang tertinggi. Insiden kanker anak diketahui ada sebnayak 2,3 persen dari seluruh kanker di Indonesia.

“Jadi dibutuhkan dukungan multisektoral dari elemen masyarakat, pemerintah, swasta, akademisi, maupun media untuk menanggulangi penyakit kanker. Kita ketahui bahwa ini multisektoral, butuh kolaborasi dan determinasi yang amat luas.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli