Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:43wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Gus Sahal: Jilbab Adalah Hak Berkeyakinan, Negara Tak Boleh Memaksa

Sabtu, 23-January-2021 17:42

Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika, Akhmad Sahal
Foto : Istimewa
Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika, Akhmad Sahal
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika, Akhmad Sahal menjelaskan terkait kewajiban berjilbab dalam konteks negara demokrasi.

Menurutnya, jilbab dalam ranah hak berkeyakinan negara tak boleh memaksakan kehendaknya dalam soal keyakinan agama.

"Dlm konteks demokrasi, jilbab itu  ranah hak berkeyakinan. Ga boleh ada paksaan negara dlm soal keyakinan agama.

Yg yakin jilbab wajib, silakan pakai. Yg yakin bahwa jilbab gak wajib ya silakan ga pake. 

Negara ga boleh memaksa berjilbab, atau memaksa copot jilbab," tulisnya seperti  dilansir akun twitternya Jakarta, Sabtu (23/1/2021).

Gus Sahal sapaan akrabnya juga menambahkan tak ada ketentuan siswi non muslim harus diwajibkan menggunakan jilbab dalam lingkungan sekolah. Itu juga, lanjut dia perlakuan sama dikenakan pada siswi yang beragama muslim, lalu sebaliknya siswi muslim tak boleh dipaksa melepas jilbab oleh sekolah negeri manapun.

"Yg gak boleh dipaksa berjilbab oleh sekolah negeri harusnya bukan hanya siswi non muslim. 

Siswi muslimah yg tak berjilbab pun TAK BOLEH dipaksa berjilbab oleh sekolah negeri.  Seperti halnya siswi muslimah yg berjilbab TAK BOLEH  dipaksa lepas jilbab oleh sekolah negeri, tulisnya.

 

Reporter : PD Djuarno
Editor : Nazaruli