Netral English Netral Mandarin
banner paskah
09:07wib
Presiden Joko Widodo mengingatkan jajaran kepala daerah untuk berhati-hati menghadapi potensi pandemi Covid-19 gelombang kedua. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan pemerintah masih memiliki utang penugasan sebesar Rp1,27 triliun kepada perusahaan.
Gubernur Anies Dinilai Tak Transparan, Saat PSI Minta Data seperti Mau Nagih Utang, Netizen: Sayang PSI Cuman Seorang Diri

Rabu, 14-April-2021 13:27

Gubernur Anies Baswedan
Foto : Istimewa
Gubernur Anies Baswedan
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemprov DKI Jakarta di bawah kendali Gubernur Anies Baswedan dinilai tidak transparan dan tertutup mengenai berbagai data.

Hal ini dirasakan oleh sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta yang merupakan mitra kerja dari Pemprov, salah satunya adalah dari politisi PSI. Alhasil, PSI merasa seperti tukang tagih utang minta data terus setiap rapat.

Situasi itu rupanya mendapat sorotan publik. Di akun FB Mak Lambe Turah, Rabu 14 April 2021, sejumlah netizen memberikan komentar tajam kepada Pemprov DKI serta memberikan dukungan pada PSI.

MLT: “Kalau benar mengapa risih.”

Dii Kee: “Vevet terus PSI.”

Ferry Setiawan: “Sayang PSI cuma seorang diri... Partai besar pada kemana?”

Josie Orlando: “Lah emang tugas DPRD yah mengawasi?”

Tommy: “Kejar terus psi cari kebenaran jangan takut rakyat ada bersama.”

Yusuf Adi Ryadi: “Coba periksa melalui KPK . psti ke buka semua datanya soal korupsi di jakarta oleh Anies Baswedan.”

Sebelumnya diberitakan, Politisi PSI Eneng Malianasari menuturkan, dirinya kerap merasa seperti tukang tagih utang ketika meminta data kepada anak buah Anies.

Padahal, data tersebut sangat diperlukan untuk memantau dan mengawasi progres semua program yang dijalankan Pemprov DKI.

"Kita jatuhnya seperti tukang tagih utang. Minta data terus, setiap rapat kami minta data yang benar, data yang valid," ucapnya, Selasa (13/4/2021).

Mili, sapaan akrab Eneng bercerita, jajaran Pemprov DKI kerap tak memberikan data saat rapat dengan DPRD DKI.

Kalaupun data itu disiapkan, dokumen yang akan dibahas saat rapat baru diberikan saat rapat, sehingga para legislator Kebon Sirih tak bisa mempelajarinya dulu.

"Rapat terakhir dengan Sarana Jaya itu saya tegas ini rapat tidak serius. Rapat pertama Sarana Jaya datang tidak bawa data, kemudian diputuskan rapat ditunda dan kembali dua minggu sesuai waktu yang ditentukan," ujarnya seperti dinukil Tribunnews.com.

"Tapi next setelah dua minggu, enggak ada data yang diserahkan ke kami," tambahnya menjelaskan.

Anggota DPRD DKI periode 2019-2024 ini menyebut, pola atau sistem kerja yang tidak transparan dan sangat tertutup ini sudah berlangsung sejak Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

"Saya dari pertama sudah merasa seperti itu, walaupun ada beberapa yang bisa diajak kerja sama, tapi kan lebih baik kalau itu menjadi kebiasaan," kata dia.

Bila transparansi dan keterbukaan bisa menjadi kebiasaan, maka fungsi pengawasan DPRD bisa berjalan maksimal.

"Kami enggak perlu jadi debt collector. Karena itu kan kesadaran, kalau mau rapat berkualitas ya suguhkan data yang berkualitas juga," tuturnya.

Sebelumnya, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Golkar Jamaludin curhat saat rapat paripurna penyampaian hasil reses pertama DPRD DKI di tahun 2021.

Ia bercerita, kerap dicuekin anak buah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat menyampaikan hasil reses yang sifatnya darurat.

Bahkan, pesan singkat lewat aplikasi whatsapp yang dikirimkan kepada anak buah Anies sejak 2020 lalu tak dibalas hingga saat ini.

"Saya mau menyampaikan keluh kesah  terkait reses. Ketika ada kedaruratan saya terkadang perlu menghubungi kepala dinas, entah itu kepala biro atau apapun itu. Terkadang saya sudah WA, tapi ada yang dari tanggal 20 Maret 2020 sampai sekarang WA saya belum dibaca," ucapnya mengeluh, Senin (12/4/2021).

Padahal, kata Jamaludin, dirinya sudah memperkenalkan diri dan menyebut dirinya sebagai anggota DPRD DKI dari Fraksi Golkar.

Namun, para pembantu gubernur itu tetap tak menggubrisnya dan pesan singkat yang dikirim pun tak dibalas.

Ia pun meminta Anies mengevaluasi jajarannya dan menyarankan agar orang nomor satu di DKI itu mencari sosok yang memiliki akhlak baik untuk jabatan-jabatan tinggi.

"Saya meminta kepada pimpinan, bisa kiranya dapat menyampaikan kepada gubernur dan wakilnya agar jangan mementingkan manusia berilmu tinggi saja," ujarnya.

"Tolong yang berakhlak tinggi juga dijadikan pembantu pimpinan gubernur dan wagub," tambahnya menjelaskan.

Curahan hati Jamaludin ini pun kemudian diterima Wakil Ketua DPRD DKI Abdurrahman Suhaimi selaku pimpinan rapat paripurna.

"Menjadi catatan penting dan akan ditindaklanjuti," kata dia.

Usai rapat paripurna, awak media pun coba mencari tahu siapa anak buah Gubernur Anies yang dimaksud. Namun, anggota Komisi A DPRD DKI ini enggan membeberkannya.

"Sementara saya belum bisa sebut, ini peringatan buat mereka. Kalau setelah ini tidak ada perubahan, saya akan jabarkan orang per orang," tutur Jamaludin.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto