Netral English Netral Mandarin
banner paskah
14:19wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Foto Wajah Disandingkan dengan Gorila, Natalius Pigai Mengadu ke Menhan AS

Senin, 25-January-2021 07:30

Aktivis kl
Foto : Istimewa
Aktivis kl
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Berita tidak mengenakan datang dari Aktivis Kemanusiaan, Natalius Pigai. Hangat diperbincangan di media sosial, wajah Pigai disandingkan dengan hewan, Gorila. 

Tindakan ini dilakukan oleh Ambroncius Nababan. Pada unggahannya, dia menyinggung Pigai yang menolak Vaksinasi Sinovac. 

"Edodoeee pace. Vaksin ko bukan sinovac pace tapi ko pu sodara bilang vaksin rabies. Sa setuju pace," tulis Ambroncius.

Tidak hanya diam, Pigai mengadukan tindakan rasisme ini kepada Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin. Llyod sendiri merupakan pria kulit hitam pertama yang menduduki jabatan sebagai Menhan AS, yang baru saja dilantik pada Jumat (22/1/2021). 

Pigai sebelumnya menyampaikan kebanggaan atas jabatan baru yang diemban oleh Lloyd. Pigai menilai, Lloyd merupakan orang berkulit hitam yang memiliki kekuatan. 

"Iam proud of you, mr @LloydAustin black African American most powerful gentlement in the world," ujar Pigai, dikutip dari cuitannya, Senin (25/1/2021).

Pigai lantas mengatakan pada Lloyd bahwa ada tindakan rasisme di Indonesia kepada Bangsa Melanesia, Papua. Tindakan itu dibeberkan Pigai telah terjadi selama lebih dari 50 tahun.

"We have been on fire  againt Indonesian Colective (state) Racism to black African Melanesian (Papuan) more then 50 years," jelas Pigai.

Pigai tegaskan, tindakan rasis itu merupakan penyiksaan dan pembunuhan. Maka dari itu, Pigai meminta perhatian dari Menhan Lloyd.

"Torture, killing & slow motion genocide. We need attention," ujar Pigai.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli