Netral English Netral Mandarin
banner paskah
08:53wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Usai Bertanya AHY Kini Jadi Apa, Eko: Saya Rakyat, Gak Pusing Siapa Ketua Partai, Saya Hanya...

Sabtu, 06-Maret-2021 12:27

Eko Kuntadhi dan Agus Harimurti Yudhoyono
Foto : Istimewa
Eko Kuntadhi dan Agus Harimurti Yudhoyono
50

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Banyak pihak meminta Moeldoko mengundurkan diri dari jabatannya di KSP usah dinyatakan menyadi Ketua Umum Demokrat versi KLB Deliserdang.

Eko Kuntadhi ikut mencuit hal sama. Namun sebelumnya ia mencuit kocak tanggapi Moedoko dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Kalau Moeldoko jadi Ketum Demokrat. Terus AHY jadi apa? Jadi Agus!" tanya Eko dan dijawab sendiri, Sabtu (6/3/21).

Ia kemudian kembali mencuit mengaku dirinya rakyat biasa tak peduli siapa yang menjadi ketua partai.

"Saya rakyat. Gak terlalu peduli dengan konflik di Parpol. Gak terlalu pusing dengan siapa ketua partai. Saya hanya berharap kinerja pemerintahan gak terganggu," kata Eko.

"Jadi jika Pak Moeldoko kini sedang sibuk masuk ke pusaran konflik PD. Saya berharap dia melepas jabatan di KSP," tegasnya.

Sorotan serupa kepada Moeldoko sebelumnya juga disampaikan Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Andre Rosiade, mengomentari pernyataan 'perang total' dari Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo - Ma'ruf Amin, Moeldoko, yang dilontarkan kemarin.

"Pak Moeldoko ini kan orang Istana ya? KSP (Kantor Staf Presiden) ya? Kalau mau perang total, berhenti dulu deh jadi kepala KSP," kata Andre kepada Tempo, Kamis, 14 Februari 2019. Moeldoko adalah Kepala Staf Kepresidenan yang menjabat sejak 17 Januari 2018 lalu menggantikan Teten Masduki.

Andre juga mengatakan pernyataan Moeldoko soal perang total adalah contoh orang-orang panik lantaran elektabilitas tak kunjung naik. "Sama kaya calon presidennya (Jokowi) yang panik juga, berimbas kepada anak buahnya panik juga. Perang total lah, genderuwo lah, sontoloyo lah, propaganda Rusia lah, konsultan asing lah," ujar Andre.

Karena itu, Andre sekali lagi menyarankan agar Moeldoko berhenti dulu sebagai kepala staf presiden. "Kalau Anda masih jadi pejabat, tolong komentar Anda yang lebih produktif dan lebih teduh gitu loh."

Kemarin, Moeldoko menegaskan bahwa saat ini timnya sudah masuk dalam strategi kampanye perang total. "Kami nyatakan sudah mulai perang total. Kami sudah menentukan center of gravity dari pertempuran itu, sehingga kami tahu harus bagaimana," ujar Moeldoko di Markas TKN, Gedung High End, Jakarta pada Rabu, 13 Februari 2019.

Namun, mantan Panglima TNI ini membantah bahwa alasan strategi perang total digunakan akibat elektabilitas calon presiden inkumben Jokowi yang cenderung stagnan di 62 hari menuju hari-H pencoblosan pemilihan presiden 2019.

"Enggak (karena stagnan). Perang total ini karena kami tidak ingin menang dengan persentase rendah. Kami ingin optimum. Target yang kami harapkan masih 70 persen," ujar Moeldoko dinukil tempo.co.

Moeldoko menjelaskan, perang total yang dimaksud, yakni; menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki dengan optimal, mulai dari partai politik, relawan, dan seluruh elemen pendukung paslon 01. "Kami mengenali kekuatan kami dan akan menggunakannya secara optimum untuk melakukan penetrasi terhadap segmen yang menjadi prioritas," ujar Kepala Staf Kepresidenan ini.

Andre Rosiade mengatakan Prabowo cs tak memiliki strategi khusus untuk menghadapi strategi perang total itu. "Kita mah, strategi kita terus berkomunikasi dengan rakyat, yakinkan rakyat, tidak perlu perang-perang total. Karena kami tahu, rakyat ingin perubahan," tutur Andre Rosiade.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto