Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:01wib
Manchester City melewatkan kesempatan mengunci gelar juara Liga Inggris musim ini seusai menderita kekalahan dari Chelsea, Sabtu (8/5/2021) malam WIB. Potongan surat perihal penonaktifan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) beredar.
Dukung Polri Tangkap Jozeph Paul, HNW: Jangan Sampai Nanti Ada Pernyataan Tersangka Sakit Jiwa

Senin, 19-April-2021 23:10

Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW)
Foto : MPR.go.id
Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW)
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW) menilai, ucapan Jozeph Paul Zhang dalam video yang viral di media sosial, sudah sangat terang benderang menistakan agama Islam dan simbol agama Islam.

“Ucapan-ucapannya jelas ingin menistakan agama dan simbol agama, tidak sesuai dengan prinsip toleransi beragama, dan secara nyata telah mengusik ketenangan umat Islam di Indonesia yang saat ini sedang beribadah di bulan suci Ramadhan,” kata HNW dalam keterangannya, Minggu (18/4/2021).

Karenanya, HNW mendukung langkah Polri untuk mengusut dan mengejar Jozeph Paul Zhang yang dikabarkan berada di luar negeri.

“Saya dukung pihak Bareskrim untuk segera menangkap pelaku penistaan agama dan simbol agama yang menteror secara radikal kekhusyu’an umat Islam yang lagi beribadah di tengah bulan Ramadhan," ujarnya.

Wakil Ketua MPR itu berharap agar pelaku penistaan agama Islam ini dapat benar-benar ditangkap dan diproses hukum secara transparan, untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah negara hukum.

“Jangan sampai nanti ada pernyataan bahwa tersangka sakit jiwa, seperti dalam kasus penistaan agama Islam dalam bentuk vandalisme atau kekerasan terhadap tokoh agama sebelumnya. Sebab kalau dia sakit jiwa, bagaimana mungkin dia bisa dengan mudah keluar masuk Indonesia, dan sekarang dikabarkan berada di Hongkong,” ucap dia.

Menurut HNW, dari sudut pandang hukum positif Indonesia, pelaku bisa tetap diusut meski berada di luar negeri. Ia merujuk kepada asas nasionalitas aktif sebagaimana diatur dalam pasal 5 KUHP bahwa hukum pidana Indonesia berlaku terhadap WNI dimana pun ia berada.

“Dan bila pun dia bukan WNI, KUHP kita juga bisa menjangkau dengan asas nasionalitas pasif di Pasal 4, dimana WNI atau WNA yang melakukan tindak pidana di luar wilayah Indonesia dapat dipidana sepanjang perbuatan itu melanggar kepentingan Indonesia. Ini jelas ingin mengadu domba antar umat beragama di Indonesia,“ paparnya.

HNW menambahkan bahwa dua asas tersebut juga diperkuat dengan Pasal 2 UU ITE yang menganut asas ekstrateritorial, dimana UU ITE berlaku untuk setiap orang baik yang berada di dalam atau di luar Indonesia yang perbuatannya memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

“Penistaan agama Islam dan simbol Agama Islam yang diduga dilakukan oleh seorang WNI ini jelas mencoreng wajah Indonesia sebagai negara mayoritas muslim yang moderat. Dan bertentangan dengan program Pemerintah yang menganjurkan toleransi dan menolak segala bentuk radikalisme,” terangnya.

Lebih jauh, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS itu menghimbau agar umat Islam di Indonesia untuk tidak terpancing dengan penistaan tersebut, dan mempercayakan agar Polri secara profesional segera dapat mengusut, mengejar dan menangkap pelaku, dengan berkoordinasi dengan interpol.

“Polri harus bisa menjawab harapan umat Islam, dan membuktikan bahwa Polisi bisa menegakkan hukum secara adil dan tak tebang pilih, dengan segera menangkap pelaku penistaan agama dan simbol Agama ini dan kemudian menjatuhkan hukum secara maksimal, agar tak terulang kasus serupa,” pungkasnya.

 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati