Netral English Netral Mandarin
banner paskah
17:10wib
Manchester City melewatkan kesempatan mengunci gelar juara Liga Inggris musim ini seusai menderita kekalahan dari Chelsea, Sabtu (8/5/2021) malam WIB. Potongan surat perihal penonaktifan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) beredar.
Dua Pengusaha Wanita Ini Sukses Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Baku Paving Block

Rabu, 21-April-2021 15:20

Paving block yang menggunakan plastik sebagai bagian dari bahan bakunya.
Foto : Istimewa
Paving block yang menggunakan plastik sebagai bagian dari bahan bakunya.
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kemasan sachet banyak digemari konsumen karena praktis dan harganya lebih murah. Tapi dari sisi daur ulang, plastik kemasan sachet seperti ini sulit diolah karena terdiri dari plastik berlapis-lapis.

Sampah-sampah plastik kemasan yang ditolak di bank sampah berubah jadi bahan baku berharga di tangan dua sahabat, Ovy Sabrina dan Novita Tan.

Mereka mengolah sampah plastik seperti kemasan kopi instan menjadi bahan baku untuk material bangunan. Perusahaan itu mencacah plastik, lalu mencampurkannya ke dalam formula yang kemudian dibentuk menjadi konblok.

Ovy dan Novita adalah teman kuliah yang bersama-sama mempelajari psikologi di universitas. Seperti dilansir Antara, Rabu (21/4/2021) sebelum mendirikan Rebricks, Ovy dan Novita pernah beberapa kali berbisnis dalam skala kecil.

Keduanya punya ketertarikan untuk menjalani gaya hidup minim sampah, seperti membawa rantang dan botol sendiri ketika keluar rumah untuk mengurangi sampah plastik yang tidak diperlukan.

"Ketika kami sedang mengobrol, kala itu Novi sedang hamil, tentang beberapa jenis sampah plastik yang belum bisa didaur ulang dan diolah," kata Ovy.

Ovy datang dari keluarga yang memiliki bisnis di bidang bahan bangunan. Keluarganya memiliki sebuah pabrik paving block konvensional yang telah berjalan selama lebih dari tiga dekade. Setelah lulus kuliah, Ovy sempat membantu sang ayah bekerja di pabrik bahan bangunan tersebut.

Di sisi lain, Novita lama berkecimpung di organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan. Dia punya pengalaman panjang soal pengembangan masyarakat. 

Novita pernah bekerja di Singkawang, di sana dia mendirikan Sekolah Harmoni Hijau yang bertujuan menyebarkan kecintaan terhadap alam di sekolah.

Latar belakang, ilmu dan kemampuan yang dimiliki oleh Ovy dan Novita kemudian dipadukan untuk mendirikan Rebricks.

"Karena ada akses ke bisnis bahan bangunan, aku dan Novi berpikir bagaimana kalau kita olah sampah plastik tertolak. Trial dan error dimulai dari Juli 2018 sampai November 2019," papar Ovy yang dibantu tim yang berlatar belakang teknik sipil.

Selama lebih dari satu tahun, mereka mencari komposisi terbaik dan mengulik bagaimana agar bisa menghasilkan bata dengan campuran sampah plastik, tapi kualitasnya sama seperti bata-bata konvensional.

Menciptakan produk baru yang belum pernah ada sebelumnya tentu merupakan tantangan yang besar. "Kami visinya ingin membuat produk daur ulang dengan harga kompetitif, tapi kualitasnya bersaing," ujar dia.

Riset yang dilakukan sekian lama menghasilkan paving block yang pertama kali diluncurkan pada November 2019.

Setelah melalui hasil uji tekan di Balai Besar Bahan dan Barang Teknik, Kementerian Perindustrian, Rebricks mendapatkan hasil bahwa produk yang mereka hasilkan memiliki mutu B. 

Bata-bata itu teruji bisa menahan beban 250kg per sertimeter persegi. Jadi, paving block yang mereka buat terbukti memenuhi standar untuk konblok yang digunakan di lahan parkir, trotoar dan juga taman.

Sampah plastik yang sudah dicacah berada dalam lapisan bawah paving block. Dalam setiap paving block, 20 persen bahannya berisi sampah. Mereka berhasil mendaur ulang 880 lembar sampah plastik tertolak per meter persegi.

Sementara itu, bagian atas konblok yang langsung bersentuhan dengan udara panas dan air hujan dibuat tanpa plastik, sebagai upaya mencegah agar tidak ada mikro plastik yang terkikis oleh air dan jadi mencemari alam.

Reporter :
Editor : Irawan HP