Netral English Netral Mandarin
12:42wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Polemik Buzzer, DS: Pendukung JKW Mapan, Rela Keluar Uang, Merdeka, Ga Pake Nasi Bungkus

Kamis, 11-Februari-2021 10:35

Denny Siregar
Foto : Istimewa
Denny Siregar
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar mengungkap hubungan antara para pendukung Jokowi dengan buzzer. Menurutnya, mereka merdeka dan nggak memakai "nasi bungkus".

"Yang gua kenal, pendukung @jokowi  itu banyak banget yg mapan, bahkan banyak yg sosialita. Mrk bela Jokowi krn suka aja, bkn dibayar. Bahkan waktu kampanye mrk rela keluar uang," kata Denny Kamis (11/2/21).

"Kalau mrk ini dianggap buzzer, gimana bs tertibkan mrk? Wong mrk merdeka, ga pake nasi bungkus," imbuhnya.

Denny juga menyindir pihak-pihak yang menyudutkan pihak lain yang dianggap buzzer.

"Jangan ajari mereka utk bedakan antara kritik dan menghina.. Wong bedakan antara Ratna Sarumpaet oplas dan digebukin saja pun mereka tidak bisa..," tandas Denny.

Sementara sebelumnya secara terpisah diberitakan, Pemerintah siap menerima kritik. Kantor Staf Presiden (KSP) mengamini hal tersebut dan menegaskan pemerintah tidak memakai buzzer untuk membungkam kritik.

"Yang pertama, buzzer bukan pemerintah. Kalau kemudian oposisi diserang buzzer, itu bukan pemerintah. Harus dipisahkan. Kedua, siapa pun yang berkomentar di media sosial harus siap menerima serangan atau kritikan balik dari mereka yang ada di media sosial atau netizen. Itu sudah biasa. Artinya, bukan cuma oposisi, pemerintah juga, kalau saya di media sosial pasti mendapatkan kecaman, kritikan, karena buzzer itu bukan hanya membela pemerintah, tapi bela oposisi juga banyak," ujar Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral Adian seperti dilansir Detik.com, Rabu (10/2/2021).

KSP menyitir pernyataan Presiden Jokowi bahwa kritik diperlukan untuk mengevaluasi kinerja pemerintah. Tetapi, jika kritik itu kemudian diserang buzzer di media sosial, kata KSP, itu tidak terkait pemerintah.

"Pemerintah tetap, seperti kata Presiden, tetap pada posisi kritik itu baik buat pemerintah, agar kerja pemerintah terevaluasi dan ada perbaikan secara terus-menerus. Tetapi, kalau orang takut kritik karena buzzer, itu bukan persoalan pemerintah karena semuanya mengalami itu. Baik pemerintah maupun bukan pemerintah di media sosial harus menerima dinamika itu. Jangan kemudian mengatakan takut kritik karena takut buzzer," kata Donny.

KSP menegaskan pemerintah tidak pernah menggunakan buzzer di media sosial untuk menyampaikan kinerja pemerintah karena memiliki humas di kementerian/lembaga untuk menjalankan tugas itu. Adapun buzzer 'propemerintah', sebut KSP, adalah mereka yang secara militan mendukung Jokowi atau pemerintahannya.

"Pemerintah tidak memerlukan buzzer, ya memang tidak memerlukan, karena pemerintah sudah menyampaikan programnya lewat humas kementerian/lembaga, juru bicara. Memang tidak memerlukan, tetapi kan kita tidak bisa melarang mereka yang notabene loyalis, yang membela kebijakan Pak Jokowi," ujar Donny.

KSP mempersilakan masyarakat mengadukan ke polisi apabila buzzer 'propemerintah' diduga melakukan tindak pidana. "Sejauh memang tidak ada hukum yang dilanggar, kalau ada pidana, silakan diadukan dan diproses hukum. Pemerintah juga akan mendukung jika ada unsur pidananya, misalnya ada ujaran kebencian, hasutan, fitnah," ujar Donny.

KSP menambahkan pemerintah hanya dapat mengimbau buzzer agar beretika di media sosial. Sebab, buzzer dikatakan tidak ada unsur organik dengan pemerintah.

"Karena bukan pemerintah, maka (buzzer) tidak bisa diredam. Paling hanya mengimbau, tapi kan karena bukan organik pemerintah, tidak bisa diapa-apakan. Kalau saya bisa, atasan saya Kepala Staf (Kepresidenan) bisa menegur saya. Tapi kalau buzzer kan tidak ada hubungan organik antara pemerintah dan para buzzer," ucap Donny.

Sebelumnya, pemerintah memberikan penegasan siap menerima kritik yang keras sekalipun supaya pembangunan lebih terarah. Pemerintah menerima kritik sebagai bagian dari berdemokrasi.

"Sebagai negara demokrasi, kebebasan pers merupakan tiang utama untuk menjaga demokrasi tetap berlangsung. Bagi pemerintah, kebebasan pers adalah sesuatu yang wajib dijaga dan bagi pemerintah kebebasan pers, kritik, saran, masukan itu seperti jamu, menguatkan pemerintah. Dan kita memerlukan kritik yang terbuka, kritik yang pedas, kritik yang keras karena dengan kritik itulah pemerintah akan membangun lebih terarah dan lebih benar," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung saat menyampaikan ucapan selamat Hari Pers Nasional 2021 seperti ditayangkan akun YouTube Sekretariat Kabinet, Selasa (9/2).

Dalam kesempatan terpisah, Kwik Kian Gie menyampaikan ketakutannya menyampaikan kritik lantaran langsung diserang buzzer. Simak di halaman selanjutnya...

Pernyataan Kwik Kian Gie itu sebelumnya disampaikan lewat akun Twitter @kiangiekwik. Kwik khawatir, setelah mengemukakan pendapat berbeda dengan rezim, akan langsung diserang buzzer di media sosial.

"Saya belum pernah setakut saat ini mengemukakan pendapat yang berbeda dengan maksud baik memberikan alternatif. Langsung saja di-buzzer habis-habisan, masalah pribadi diodal-adil," kata Kwik seperti dikutip CNNIndonesia.com dan sudah mendapat izin dari yang bersangkutan, Senin (8/2).

Kwik kemudian membandingkan saat dia menyampaikan kritik saat Soeharto berkuasa. Kwik mengaku leluasa melontarkan kritik ke rezim Orde Baru di kolom harian Kompas. Menurutnya, kritik yang dia sampaikan saat itu juga tergolong tajam."

"Kritik-kritik tajam, tidak sekali pun ada masalah," ujarnya.

Atas pernyataan Kwik Kian Gie, pihak Kantor Staf Presiden (KSP)menegaskan pemerintah tidak antikritik.

"Pertama, pemerintah tidak alergi kritik, setiap hari pemerintah dihujani kritik, baik media mainstream, online, maupun sosial," kata Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral Adian kepada wartawan, Selasa (9/2).

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto