Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:58wib
KontraS menyatakan selama 100 hari kepemimpinan Jenderal Listyo, kondisi penegakan hukum dan HAM yang dilakukan oleh kepolisian tak kunjung membaik. Pemerintah Nepal tengah kelabakan karena jumlah kasus infeksi virus corona di negara itu melonjak 57 kali lipat, akibat penyebaran virus jenis mutasi dari India.
DND Diduga Hina Hindu, Muannas: Terus Proses Hukum Buat Efek Jera, Jangan Berhenti di Materai

Rabu, 21-April-2021 02:00

Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid
Foto : Istimewa
Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid mengomentari kasus ceramah dosen sebuah perguruan tinggi swasta di DKI Jakarta, Desak Made Darmawati (DMD) yang diduga melakukan pelecehan agama Hindu.

Menurut Muannas, kasus tersebut mesti diproses hukum hingga tuntas agar memberikan efek jera kepada pelaku penghinaan berbau SARA. Ia berharap, kasus DND tak cukup selesai dengan permintaan maaf dan tanda tangan di atas materai.

Hal itu disampaikan Muannas lewat akun Twitternya dengan menautkan artikel berita dari salah satu media daring yang menulis soal sikap Ditjen Bimas Hindu Kemenag dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang menyatakan menerima permintaan maaf dari Desak Made Darmawati namun proses hukum tetap harus berjalan. 

"Mesti terus ada proses hukum buat pelaku pemecah belah untuk efek jera, jangan berenti di materei, agar penghinaan sara kedepan tidak dianggap lagi sebagai kewajaran," cuit @muannas_alaidid, Selasa (20/4/2021).

Sebelumnya, Dosen kewirausahaan di UHAMKA, Desak Made Darmawati, menyampaikan permohonan maaf atas ucapannya dalam video viral yang menyinggung umat Hindu. 

Permohonan maaf Desak Made disampaikan dalam pertemuan dengan Ditjen Bimas Hindu Kemenag dan PHDI Pusat di kompleks Pura Mustika Dharma, Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021).

Pertemuan itu turut disaksikan pihak UHAMKA serta perwakilan dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

Dalam pertemuan itu, Desak Darmawati mengaku bahwa video yang viral merupakan video ceramah dengan tema 'Kenapa masuk Islam, para Pencari Tuhan'.

Desak Made Darmawati menyatakan tidak bermaksud dan tidak memiliki niat untuk menista dan mengolok-olok agama Hindu dan masyarakat atau umat Hindu. Hal itu terjadi semata-mata disebabkan karena kelemahan dan kelalaiannya.

"Dengan kerendahan hati saya menyampaikan permohonan maaf kepada segenap masyarakat atau umat Hindu dan pemuka agama Hindu serta segenap masyarakat Indonesia atas pernyataan saya yang keliru," ucap Desak Made Darmawati membaca permohonan maaf yang ditulisnya, seperti dilansir dari laman Ditjen Bimas Hindu.

"Saya akan bertanggung jawab terhadap semua akibat yang ditimbulkan oleh kelalaian dan kesalahan saya ini. Namun demikian, saya sangat berharap masyarakat atau umat Hindu serta masyarakat Indonesia dapat menerima pernyataan permohonan maaf saya ini dan dapat diselesaikan secara kekeluargaan," sambung Desak Made.

Permohonan maaf tertulisnya kemudian disampaikan kepada Ketua PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya disaksikan Dirjen Bimas Hindu Kemenag Tri Handoko Seto dan tamu undangan lainnya. 

Dirjen Bimas Hindu dan Ketua PHDI Pusat kompak menyatakan menerima permintaan maaf yang disampaikan oleh Desak Made Darmawati, namun proses hukum tetap harus berjalan. 

"Saya sungguh berharap tentu saja kita semua memiliki kewajiban untuk saling memaafkan terlebih dalam hubungan antar umat beragama kita harus menjaga harmoni supaya ini tidak kemudian kedepan berlarut-larut mengganggu kegiatan kita menyita banyak resource yang kita miliki dan lebih buruknya menimbulkan perpecahan antar umat beragama," kata Tri Handoko Seto.

"Namun demikian tadi tetap pesan dari pak Menko dan Gus Menteri bahwa memang kerukunan harus kita jaga tetapi bahwa kemudian komponen-komponen umat kita ingin menjalankan proses hukum itu tolong tetap dilaksanakan sesuai kaidah-kaidah hukum yang berlaku tanpa perlu ada rasa prasangka kebencian," jelasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati