Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:35wib
Isu reshuffle kabinet kian mengemuka pasca rencana penggabungan Kemenristek ke dalam Kemendikbud. Satgas Penanganan Covid-19 memastikan pengembangan vaksin Merah Putih tetap berjalan dan tidak terpengaruh peleburan Kemenristek dengan Kemendikbud.
Disebut Dungu dan Pandir Oleh Rizieq, JPU: Bahasa Orang Tidak Terdidik dan Berpikir Dangkal

Rabu, 31-Maret-2021 06:40

Habib Rizieq Shihab
Foto : Istimewa
Habib Rizieq Shihab
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menanggapi nota keberatan atau eksepsi terdakwa kasus kerumunan, Habib Rizieq Shihab (HRS), dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (30/3/2021).

Salah satu poin yang ditanggapi jaksa dari eksepsi terdakwa adalah pernyataan Habib Rizieq yang menyebut 'JPU sangat dungu dan pandir'.

Jaksa menilai, kata dungu dan pandir biasanya digunakan oleh orang yang tidak terdidik atau berpikir dangkal dan diksi itu tidak menjadi bagian dari eksepsi.

"Ada kalimat dalam eksepsinya menganggap JPU sangat dungu dan pandir soal SKT (surat keterangan terdaftar) menganggap JPU mencoba menyebar hoaks dan fitnah," kata jaksa.

"Kalimat-kalimat seperti ini bukanlah bagian dari eksepsi, kecuali bahasa- bahasa seperti ini digunakan oleh orang-orang yang tidak terdidik dan dikategorikan kualifikasi berpikir dangkal," sambungnya.

Jaksa menjelaskan, kata pandir dalam kamus umum bahasa Indonesia berarti bodoh dan bebal. Sedangkan kata dungu artinya sangat tumpul otaknya, tidak mengerti atau bodoh.

Menurut jaksa, kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan dalam persidangan, apalagi itu disematkan kepada JPU yang notabene merupakan orang-orang terdidik.

"Tidaklah seharusnya kata-kata yang tidak terdidik ini diucapkan, apalagi dilabelkan kepada jaksa penuntut umum. Sangatlah naif kalau jaksa penuntut umum yang menyidangkan perkara terdakwa dan kawan-kawan dikatakan orang bodoh, bebal, tumpul otaknya, tidak mengerti," ucap JPU.

Jaksa menekankan bahwa tim JPU adalah orang-orang intelektual yang rata-rata mengenyam pendidikan hingga strata dua (S2) dan sudah berpengalaman di bidangnya.

"Kami jaksa penuntut umum yang menyidangkan perkara terdakwa adalah orang-orang intelektual yang terdidik dengan berpredikat pendidikan rata-rata strata dua dan berpengalaman puluhan tahun di bidangnya," ujar jaksa.

Karenanya, JPU mengingatkan Habib Rizieq untuk tidak mudah melabeli orang lain dengan dengan perkataan-perkataan yang merendahkan.

"Untuk itu, sebagai pelajaran, jangan mudah menjustifikasi orang lain, apalagi meremehkan sesama. Sifat demikian menunjukkan akhlak dan moral yang tidak baik," tegas jaksa.

Sebelumnya diberitakan, dalam sidang pembacaan eksepsi pada Jumat (26/3/2021), Habib Rizieq menyebut para jaksa 'sangat dungu dan pandir' terkait persoalan SKT organisasi kemasyarakatan. 

"Semua ormas baik yang punya SKT maupun tidak dilindungi oleh konstitusi dan perundang-undangan. Jadi di sini jelas, JPU sangat dungu dan pandir. Soal SKT saja tidak paham, lalu dengan kedunguan dan kepandirannya mencoba sebar hoax dan fitnah," ungkap Habib Rizieq. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli