Netral English Netral Mandarin
banner paskah
04:55wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Ungkit Kisah Mantan Teroris Sofyan Tsauri, Denny: Biar Kita Makin Menghargai Kerja Densus 88 yang Bertaruh Nyawa

Senin, 29-Maret-2021 07:45

Kolase Denny Siregar dan Sofyan Tsauri
Foto : Istimewa
Kolase Denny Siregar dan Sofyan Tsauri
34

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pascateror bom di Katedral Makassar, pegiat media sosial Denny Siregar mengungkap tentang catatan mantan teroris Sofyan Tsauri. Menurutnya, hal itu penting untuk melihat bagaimana kerja Densus 88 dalam memberantas radikalisme. 

“Cerita yang sangat berharga dari mantan teroris Sofyan Tsauri.. Biar kita makin menghargai kerja Densus 88 yang bertaruh nyawa dalam memberantasnya..,” kata Denny, Senin (29/3/21). 

Catatan Sofyan berjudul “Malam Pertama Bersama Densus 88 (bag.2)”.  Berikut catatan lengkap yang disebut-sebut Denny menarik untuk disimak:

Malam pertama Bersama Densus 88 (bag.2)

Sofyan Tsauri, 6 Maret 2010 

Tepat 11 tahun yang lalu merupakan awal kelam dari kehidupan saya, berhenti semua dr petualangan saya dalam usaha mencari kebenaran hakiki dalam hidup, bermula saya menghubungi istri saya, saya sudah menggunakan HP dan nomer baru agar tidak terlacak, demikian istri juga menggunakan HP dan nomer baru yang saya belikan sebelum saya tertangkap, saya katakan kpd istri saya, kamu gunakan HP dan nomer ini ktka polisi mncari Abi, Ingat jangan menghubungi orang2 dengan hp ini kecuali hanya ke Abi.

Nomer dan jalur khusus ini memang sudah kami persiapkan jauh2 hari, ketahuan niat banget jadi teroris demikian kata densus 88 ktka baru tertangkap, dugaan saya salah, mereka sudah mengeblok nomer di rumah saya, densus sudah mengontrak di samping rumah, mereka mngawasi 24 jam rumah saya, orang tua dan mertua saya, mereka memasang alat penyadap, sehingga nomer siapa saja yang masuk pasti ketahuan densus 88.

Saya mengatakan kepada istri saya, tolong kamu awasi di belakang kamu, jika ada yang mengikuti kamu, batalkan pertemuan kita, kamu berhenti dulu di GIANT Cimanggis, kamu belanja dulu ya, kata saya terus membimbing, Aman bi, kayaknya tidak ada yang ikuti, balas istri disana, "oke kalau begitukata saya, padahal nomer istri dan saya sudah tersadap, densus pun bersiap-siap melakukan persiapan menangkap saya saat itu.

Pasukan densus 88 dr team yang bernama SW Silent Warrior untungnya sedang di Aceh memburu rekan2 kami yang lain, sementara di Jakarta kosong pasukan, tetapi densus mengawasi HP saya yang hidup mati dalam perjalanan, densus 88 memprediksi bahwa sofyan Tsauri berjalan menuju Jakarta, operasi penangkapan saya pun di lakukan, kembali ke istri saya, densus 88 terus membututi istri dr jarak jauh, mereka ikuti kemana istri saya berjalan, Tampa disadari istri saya saat itu dst.

Ketika sudah mulai mendekat titik yang telah saya tentukan, mobil taksi yang di tumpangi istri berhenti, saya pun mengamati lama, takut ada mobil yang mengikuti, sepucuk senjata FN full amunisi saya persiapkan, merasa aman kanan dan aman kiri saya pun keluar dari tempat persembunyian, dan berjalan cepat menghampiri mobil taksi.

Alhamdulillah saya bertemu dengan istri kembali, anak-anak saya yang masih kecil-kecil pun kegirangan bertemu Abi nya, saya segera memangku anak saya yang berumur 3 tahun, seraya menggendong bayi 10 bulan saat itu, setelah beberapa bulan terpisah karena DPO Mabes polri saat itu, saya memang telah menjadi DPO sejak Januari dari Polda Kalimantan timur saat ketahuan menjual senjata api keberapa pengusaha, saat itu nama saya di cari Polda Kaltim dan mabes polri, kasus penjualan senjata api di Kaltim pun di ambil alih Mabes Polri.

Tepat di pertigaan Jalan Narogong pangkalan 9 keluar kota wisata jam 17.45 WIB, mobil taksi saya di cegat dan di palang oleh beberapa mobil, sopir taksi pun kaget  mengerem mendadak, bunyi letusan senjata bertubi-tubi, saya belum menyadari apa yang sedang terjadi, respek saya memegang pistol saya lalu saya kokang "Krak Krek" saya pun memperbaiki posisi saya  bersiap2, tiba2 pintu mobil taksi di buka dan di todongkan pistol Laras panjang dan pendek ke arah saya, ada sekian detik waktu saya untuk mengambil sikap, posisi saya bersebelahan dengan ummi yang sedang menggendong bayi, anak yang saya pangku berumur tiga tahun yg bernama Thoriq saya berikan kepada umminya, hal itu menyulitkan saya bertindak, balas tidak balas tidak, tidak pikir saya, jika saya balas menembak, pasti tembakan Densus 88 akan mengenai anak-anak saya.

Saya di bentak di suruh keluar, "KELUAR KELUAR"!!!? seiring bunyi letusan senjata tidak berhenti, anak-anak ketakutan dan menangis, istri sayapun ikut menangis, sayapun panik dan mulai menyadari bahwa saya sepertinya akan di tangkap, saya pun mengangkat tangan, lalu di tarik oleh densus 88 untuk tiarap di jalan, lalu kaki di rantai dan tangan saya di borgol, anak-anak sayapun berteriak "Abii-Abiii"...dalam benak hati anak2 saya Ayyash (7tahun) dan Thoriq (3tahun) Abi telah di tembak mati.

Setelah di borgol dan di ikat kaki dengan rantai saya pun di masukan ke dalam mobil, saat itu juga mata saya di lakban kuat, agar saya tidak bisa melihat, waktu itu menjelang magrib mulai gelap, segelap nasib saya saat itu, saya pun mulai di bentak2, Hay Bangsat kamu, kamu pengkhianat Polisi kan? Kamu gabung teroris kan, kamu tahu tidak, kelompok membunuh Briptu Boas, kamu yang nembak kan, terus mereka membentak marah kepada saya, Hay Sofyan, kamu dari Aceh kan, ngaku saja kamu, saya pun lemas, perbuatan saya terbongkar.

Kata Yudi, kamulah yang memberi senjata kepada teroris kan, dari mana senjata2 itu, kau dapatkan dr mana senjata itu, kamu yg mengdoktrin anak-anak Aceh kan, kamu bendahara Al-Qa3da kan, terus saja mereka bertanya, saya pun shock saat itu.

Malam itu menjadi malam pertama saya dengan densus 88, tepat 11 tahun yang lalu di detik yang sama ketika saya menulis ini, mereka mulai memukuli wajah saya, perut dan dada, kami dari tulang kering hingga paha, entah berapa ratus kali pukulan itu terus mendarat di tubuh saya, saya hanya bisa beristighfar dan sesekali takbir, setiap saya mengucapkan Takbir semakin keras mereka menyiksa saya, lantas salah satu Densus 88 berbicara, apa pantas kamu mengucapkan takbir dengan membunuh kawan2 kami, saya diam tidak lagi bertakbir, salah satu Densus 88 mengatakan, kamu baru daging ketemu daging aja sudah nangis, belum kayu ketemu daging, dan besi ketemu daging, mungkin maksudnya pukulan kemuka itu daging ketemu daging, lalu kayu, mereka menggunakan kayu untuk memukul, lalu besi dst.

Inilah pengalaman menyakitkan selama saya hidup, terbacoknya saya dan di gebukin didalam kereta belum seberapa sakitnya di bandingkan malam pertama bersama Densus 88, pembacokan clurit masa sekolah amat lah singkat, bahkan tidak berasa, hnya seperti mengalami pukulan balok, lalu perih, mata kunang2 pingsan kehabisan darah, sadar2 sudah di ruang operasi rumah sakit, tetapi kali beda, sakitnya semalaman, saya pingsan beberapa kali, hingga pukulan2 tidak berasa di tubuh, ya saya pingsan berkali-kali, tak terasa saya terkencing2 dan terberak-berak menahan sakitnya siksaan.

Di sela-sela pingsan antara sadar dan tidak, saya ijin melakukan sholat magrib dan Isya, dengan posisi duduk Tampa bisa tayamum lagi, bahkan dengan pakaian penuh najis kencing dan BAB,  saya yakin Allah Ta'ala memberikan Udzhur kepada saya, seumur-umur baru kali itu saya sholat dengan penuh najis, saya pun mulai bertakbir dengan suara lirih, mulut terasa sakit karena bibir pecah bengkak, mata tidak bisa melihat, dan bercampur dengan amisnya darah dimana2.

Entah berapa rekaat saya sholat, tidak ingat lagi jumlahnya, dalam keadaan linglung, antara sadar dan tidak, saya menerima ujian ini dengan sabar, saya menangis mengingat bagaimana kabar anak-anak dan istri, entah mereka ada dimana, dalam hati saya berkata, ya Allah inilah airmata, darah dan debu Sabilillah, saya ridho dan ikhlas jika saya mati malam ini, maafkan dosa2 saya, cabutlah nyawa saya sekarang juga, saya tidak tahan siksaan ini, ya Allah inilah bukti cinta saya pada Dien ini, Ya Allah wafatkan saya malam ini juga, sayapun pingsan untuk beberapa kalinya.

Sayapun di bangun kembali oleh beberapa anak2 muda, bang bangun bang, minum dulu, saya pun bangun, saya pikir saya sudah dikubur, mata saya masih di lakban, saya di tawari minum oleh anak2 muda yang ternyata Bintara remaja, mereka baru bergabung dengan Densus, mereka masih polos2, mereka menuangkan minuman ke bibir saya, saya memang kehausan, karena semalaman teriak2 kesakitan.

Lalu densus muda mngatakan, "duh bang sampai bgni amat bang, sayang badan bang, kasihan anak2 dan istri Abang, bagaimana masa depan mereka bang, besok jangan di ulang lah bang, kasihan anak2, tadi pas Abang di siksa, istri sama anak denger loh, mereka ikut nangis dengar Abang di siksa, ketika saya sdh di lapas Cipinang saya bertanya ke umminya, emang waktu Abi di siksa ummi dengar Abi teriak2 sambil nangis ? Lalu ummi menjawab, iyalah itu di rumah sakit Tamrin jalan Narogong jam 7 waktu Isya dan di depan gereja Brimob Kelapa dua, sekitar jam 12 malaman bi, kata istri polos.

Bersambung ke bag.3

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto