Netral English Netral Mandarin
banner paskah
16:55wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Belajar dari Demokrat, Mardani:  Hanya Dikangkangi Kepentingan Personal Akan Jadi Partai yang Kerdil dan…

Senin, 22-Maret-2021 09:05

Mardani Ali Sera
Foto : dpr.go
Mardani Ali Sera
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus PKS, Mardani Ali Sera berusaha memaknai fenomena gonjang-ganjing yang melanda Parta Demokrat. 

Mardani mengungkap mana yang disebut Partai yang sehat dan mana yang bukan. Menurutnya, Partai yang menjadi kepentingan individu maka partai akan menjadi kerdil.

“Partai yang sehat merupakan partai yang terlembaga. Sebisa mungkin harus terbebas dari kepentingan individu. Semakin partai mengedepankan aturan main, maka akan semakin modern dan ketika semakin modern dia akan menjadi kokoh dalam membela demokrasi,” kata Mardani, Senin 22 Maret 2021.

“Sebaliknya jika partai hanya menjadi alat kepentingan pribadi individu dan dimana sistem atau aturan main itu dikangkangi oleh kepentingan personal, maka selama itu pula partai itu akan menjadi partai yang kerdil & tradisional. Tidak akan kokoh menjadi elemen pendukung demokrasi,” imbunya.

Untuk itu, Mardani menyarankan agar hati-hati.

“Bismillah, kasus yg menimpa rekan2 @PDemokrat  memberi peringatan, jika tidak kita kelola secara hati-hati akan membahayakan demokrasi negeri ini. Situasi yang jelas tidak sesuai dengan semangat penguatan partai sebagai salah satu institusi terpenting dalam demokrasi,” kata Mardani.

“Namun jika kemudian penyelesaiannya adalah dengan cara2 seperti ini, tentu menyebabkan hakekat berorganisasi menjadi mati, hakekat belajar bertarung secara alamiah berdasarkan konstitusi menjadi bubar. Kudeta politik merupakan cawa awam berpolitik & itu berbahaya bagi demokrasi,” lanjutnya.

“Pelajaran lain dari fenomena kudeta ini yakni mematikan semangat berorganisasi yang alamiah. Dalam suatu organisasi biasa kita berkompetisi, ada yang kalah dan ada yang menang dan politik adalah seni untuk berkuasa, seni untuk memenangkan suatu pertarungan,” pungkasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto