Netral English Netral Mandarin
banner paskah
15:27wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Catat! Ini Film Akhir Pekan Layan Ditonton

Selasa, 06-April-2021 16:00

Film Chaos Walking bisa ditonton pada 7 april.
Foto : Antara
Film Chaos Walking bisa ditonton pada 7 april.
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - "Chaos Walking" merupakan film yang berlatarkan waktu di tahun 2557 -- di sebuah planet yang dikenal sebagai "Dunia Baru". Berfokus pada Todd Hewitt (Tom Holland) yang menemukan Viola (Daisy Ridley), seorang gadis misterius yang jatuh mendarat di planetnya, tepatnya di kota Prentisstown.

Prentisstown, kota di mana Todd tinggal, diceritakan bahwa semua wanita telah menghilang dan para pria mengalami "Nurani" atau “The Noise” - kekuatan yang menampilkan semua pemikiran mereka secara gamblang.

Kota ini dipimpin oleh Walikota Prentiss (Mads Mikkelsen), yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan "Nurani"nya, yang berarti dia adalah salah satu dari sedikit karakter pria yang tidak dikelilingi oleh pusaran keriuhan pribadi. Walikota memiliki seorang anak lelaki yang ambisius, Davy Jr. (Nick Jonas).

Salah satu tokoh lain adalah Pendeta Aaron (David Oyelowo) yang sangat berapi-api dengan khotbah dan kepercayaannya -- yang kadang terlalu bising karena bertabrakan dengan "nurani" para warga lainnya.

Kembali ke tokoh utama, Todd, ia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Walikota Prentiss karena figur pemimpin yang sangat peduli dengannya. Namun, hubungan tersebut kian merenggang sejak tibanya Viola di kota tanpa wanita tersebut.

Berbeda dengan para pria, Viola sebagai seorang wanita memiliki keunggulan di mana isi pikirannya tidak bisa diketahui oleh orang lain.

Kehadiran Viola dan pesawat antariksanya di Prentisstown menjadi sasaran walikota dan para pengikutnya untuk menjalankan misi agar bisa pergi dari planet antah berantah itu. Hal itu membuat Viola harus kabur dan berusaha memanggil awak di pesawat lainnya.

Dalam keadaan berbahaya ini, nyawa Viola terancam - dan saat Todd bersumpah untuk melindunginya, dia harus menemukan kekuatan batinnya sendiri dan membuka rahasia gelap planet ini.

Seiring berjalannya waktu, Viola dan Todd cukup pintar untuk menyadari bahwa niat walikota itu tidak jelas, dan mereka berdua dikejar oleh Prentiss dan kawanannya.

Kedua remaja tersebut pun tiba di sebuah kota yang dipimpin oleh Walikota Hildy (Cynthia Erivo), yang merupakan seorang wanita. Ia dan warga kota membantu Todd dan Viola untuk singgah sesaat sembari meraba-raba bantuan pesawat antariksa Viola yang lainnya.

Di tengah perjalanannya, hubungan antara Todd dan Viola kian membaik. Terdapat sejumlah momen manis dan lucu di antaranya keduanya. Salah satu yang berkesan adalah saat Viola membacakan jurnal ibu Todd -- lantaran Todd buta huruf.

Jurnal tersebut menerangi pemahamannya tentang masa lalu dan sifat sebenarnya dari walikota dan para anteknya.

"Chaos Walking" diadaptasi berdasarkan novel laris karangan Patrick Ness berjudul "The Knife of Never Letting Go", yang rilis pada tahun 2008. Film ini diarahkan oleh sutradara "The Bourne Identity" dan "Edge of Tomorrow" -- Doug Liman.

Diumumkan pada tahun 2011, film ini menjalani beberapa penulisan ulang dari draf oleh Charlie Kaufman, dengan Jamie Linden, John Lee Hancock, Gary Spinelli, Lindsey Beer, Christopher Ford, dan Ness merevisinya lebih lanjut.

Liman kemudian diumumkan sebagai sutradara pada tahun 2016, dan pengambilan gambar pertama dimulai pada 2017.

Awalnya film akan dirilis pada 1 Maret 2019, namun kemudian dihapus dari jadwal untuk mengakomodasi pemutaran ulang film pada April 2019.

Meski memiliki premis yang menarik dan kaya akan kemungkinan, rasanya masih ada sejumlah hal yang kurang didalami lebih jauh lagi. Sebuah dunia di mana pikiran laki-laki yang tidak difilter terus-menerus ditampilkan -- namun juga muncul sejumlah hal yang membingungkan seperti kehadiran alien dan motivasi antara makhluk-makhluk tersebut yang masih samar.

"Nurani" sendiri -- yang diproyeksikan ke dalam gelembung CGI dan voice over terkadang membuat kejadian -- terutama dalam adegan keramaian -- untuk melacak apa yang terjadi, siapa yang sebenarnya berbicara, dan siapa hanya memikirkannya -- membuat banyak elemen tertumpuk.

Di sisi lain, "nurani" menjadi elemen yang juga menarik bagi pengembangan karakter-karakternya, terutama Todd yang masih kekanak-kanakan. Sesekali pikiran seorang remaja laki-laki yang terpampang jelas di hadapan perempuan seperti Viola, cukup menggelitik dan memberikan bumbu dan kesegaran tersendiri dalam film.

Penampilan Holland dan Ridley sebagai dua tokoh utama bisa dibilang baik dan mampu menerjemahkan ketegangan cerita. Terutama Holland yang harus berakting dua kali -- di depan layar dan sebagai isi pikirannya. Baik Holland dan Ridley yang merupakan ikon pemain film muda rasanya memang cocok untuk beradu akting di film adaptasi novel young adult ini.

Di sisi lain, Mads Mikkelsen sebagai Walikota Prentiss tampaknya tidak mampu memberikan penampilan yang buruk. Walikota yang misterius menjadi semakin menarik dengan tatapan dan senyuman licik, Mikkelsen melampaui apa yang diberikan materi kepadanya.

Banyak perpaduan antara aksi, visual, dan audio nan kuat yang tentu akan memanjakan penonton dan membuatnya bertahan menyaksikan film ini terutama di layar lebar.

Secara keseluruhan, "Chaos Walking" memiliki banyak kisah yang mengajak penontonnya untuk ikut berpartisipasi menyimak dan menghubungkan satu misteri dengan lainnya.

Dengan dinamika di antara tokoh-tokoh utamanya, ditambah dengan visual cantik dan penuh aksi, menambah sisi estetika film dan cukup mengobati kerinduan untuk menonton film petualangan di layar lebar.

"Chaos Walking" sendiri siap tayang di sejumlah bioskop di Indonesia mulai tanggal 7 April 2021. 

Reporter : Sulha
Editor : Sulha Handayani