Netral English Netral Mandarin
banner paskah
12:30wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
BW 'Serang' Jokowi Terkait Kisruh Demokrat, Ngabalin: Lucu, Geli dan Jijik

Senin, 15-Maret-2021 15:55

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin
Foto : Ksp.goid
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin merasa lucu dengan sikap kuasa hukum Partai  Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Bambang Widjojanto (BW) yang 'menyerang' kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait konflik Partai Demokrat.

Hal itu disampaikan Ngabalin menanggapi pernyataan BW yang menyebut jika Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara diakomodasi maka hal itu menunjukkan brutalitas demokrasi di era Presiden Jokowi.

"Waktu saya ditanya, apa komentar saya atas pernyataan Bambang Widjojanto, saya bilang lucu, geli, dan jijik," kata Ngabalin dalam video yang diunggah di akun Twitternya, @NgabalinNew, dilihat netralnews.com, Senin (15/3/2021).

Selain lucu, Ngabalin menyebut pernyataan BW menyesatkan publik. Pasalnya, permasalahan terjadi di internal Demokrat, KLB pun digelar oleh orang-orang Demokrat, namun pemerintahan Jokowi yang menjadi bulan-bulanan serangan BW.

"Ada orang Demokrat, masalahnya masalah internal partai, kemudian yang buat KLB adalah orang Demokrat, kok Jokowi yang jadi bulan-bulanan," ujar Ngabalin.

"Ini ada kerangka berpikir yang keliru, sesat. Tidak saja sesat, tetapi menyesatkan publik. Dimana logikanya ada masalah internal partai politik, kemudian partai itu dinilainya telah diserang, kemudian negara, kekuasaan dan pemerintah yang sah diserang," sambungnya.

Menurut Ngabalin, penggunaan diksi brutalisme demokrasi menunjukkan BW kurang referensi. Ia kemudian menjelaskan soal apa itu brutal hingga mempertanyakan siapa yang dimaksud BW melakukan tindakan brutal terhadap demokrasi di era Jokowi.

"Kemudian ada brutalisme demokrasi, lucu. Diksi yang saya kira harus butuh referensi yang kuat ini, mas Bambang ya.Brutal itu bung, artinya kasar, artinya kurang ajar, artinya biadab, tidak tahu aturan," ucap dia.

"Siapa yang anda maksud dengan brutal itu? Di era demokrasi, di era Jokowi, yang anda maksud brutal yang siapa? Siapa yang kurang ajar, siapa yang kasar, siapa yang biadab, yang anda maksud itu siapa?" tanya Ngabalin sembari tertawa.

Lebih jauh, Ngabalin mengingatkan agar mantan Komisioner KPK itu lebih profesional dan menggunakan akal sehat dalam berpendapat, serta tidak asal menyerang pihak lain jika kehabisan argumentasi. Apalagi, lanjutnya, sudah berulang kali pemerintah telah menyampaikan sikap soal kisruh di internal Demokrat.

"Masak ada seorang tokoh seperti Bambang Widjojanto komentarnya seperti itu. Aduh sayang sekali. Jadilah pembela hukum, pengacara yang profesional, pembela hukum itu kan anda tau itu penegak hukum, jadi jangan menabrak hukum. Kalau kehabisan argumentasi, saya kira tidak perlu serang menyerang ke sana kemari," jelasnya.

"Berkali-kali kami pemerintah telah memberikan keterangan secara terbuka ke ruang publik, masak sih tidak pakai hati, nurani, dan akal sehat dalam menterjemahkan semua diksi dan narasi yang telah kami sampaikan. Pemerintah pasti bekerja secara profesional, ada UU-nya, AD/ART, buka itu kuping biar mengerti apa yang telah kami jelaskan," pungkas Ngabalin.

Sebelumnya, Bambang Widjojanto (BW) mengatakan, jika hasil KLB Demokrat Deli Serdang, Sumatera Utara yang menetapkan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko sebagai ketua umum disahkan pemerintah, maka hal itu akan menjadi bukti kebrutalan demokrasi era kepemimpinan Jokowi. 

"Kalau ini (hasil KLB) diakomodasi, difasilitasi, tindakan-tindakan seperti ini, ini bukan sekadar abal-abal, ini brutalitas, brutalitas demokratif terjadi di negara ini pada periode kepemimpinannya Pak Jokowi," ujar BW kepada wartawan, Jumat (12/3/2021).

“Jadi ini tidak main-main. Kalau orang-orang seperti ini difasilitasi dan diberi tempat, maka kemudian semua partai bisa dihancurkan dengan cara begini. Ini bisa mengancam bukan hanya partai, tapi seluruh sendi kehidupan bagi masyarakat, bangsa dan negara ini,” tegas BW.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli