Netral English Netral Mandarin
banner paskah
03:01wib
Isu reshuffle kabinet kian mengemuka pasca rencana penggabungan Kemenristek ke dalam Kemendikbud. Satgas Penanganan Covid-19 memastikan pengembangan vaksin Merah Putih tetap berjalan dan tidak terpengaruh peleburan Kemenristek dengan Kemendikbud.
Bisnis yang Paling Cocok untuk Perempuan di Masa Pandemi

Kamis, 25-Maret-2021 05:45

Bisnis UKM sescara online sangat pas untuk perempuan.
Foto : Kemenparekraf
Bisnis UKM sescara online sangat pas untuk perempuan.
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM  -Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari kalangan wanita yang bergabung ke platform e-commerce bertambah selama pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung setahun terakhir di Indonesia.  Terdapat 18,6 persen pelaku UMKM wanita yang baru memulai bisnis di masa pandemi COVID-19 dan bergabung ke platform daring, menurut riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bersama salah satu e-commerce besar Indonesia bertajuk 

"Bertahan, Bangkit, dan Tumbuhnya UMKM di tengah Pandemi melalui Adopsi Digital".  Kepala LPEM FEB UI, Riatu Mariatul Qibthiyyah, mengatakan bahwa e-commerce memberikan kesempatan bagi masyarakat luas, khususnya perempuan, untuk memulai bisnis mereka.

"Persentase perempuan memulai usaha 5,4 poin lebih tinggi dibanding dengan pelaku usaha laki-laki yang berjumlah 13,2 persen," tutur Riatu,Rabu, (24/3/2021).Salah satu contoh pelaku UMKM wanita yang bertahan di tengah pandemi karena berjualan di platform belanja daring adalah Ni Kadek Eka Citrawati yang merupakan pemilik bisnis produk perawatan tubuh yang berlokasi di Bali.

Seperti diketahui, Bali merupakan salah satu kota yang ekonominya paling merosot akibat COVID-19.

Eka Citrawati menceritakan berkat adanya penjualan daring, dirinya dapat tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19 karena 80 persen penjualannya berasal dari e-commerce.Ia pun menceritakan dengan penjualan daring itu dirinya dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

“Di Bali Alus untuk pengemasan dan juga produksi kami memberdayakan ibu-ibu atau wanita yang berada di sekitar kami. Selain itu karena kami berbahan dasar hasil alam, kami juga membantu petani dengan membeli hasil tanamannya. Ini membantu perekonomian keluarga-keluarga yang ada di Bali,” kata Eka.

Pemanfaat teknologi digital yang dilakukan oleh Eka juga diharapkan dapat diadopsi oleh pelaku UMKM di Indonesia yang belum mencoba platform daring.

Pandemi dan Digital

Masa pandemi COVID-19, yang memaksa orang membatasi kontak langsung, menjadi titik balik bagi sektor industri untuk mengambil langkah berani mengadopsi teknologi digital untuk memastikan keberlangsungan dan keberlanjutan operasional mereka.

Pernyataan tersebut disampaikan Fungsional Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Jasa Industri Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Bambang Riznanto, dalam acara "Optimalisasi Asset Digital untuk Percepatan Pemulihan Bisnis Pasca Pandemi", Rabu.

"Hal yang harus diingat pelaku industri adalah teknologi yang telah diimplementasikan ini harus dikelola dan dirawat dengan baik agar biaya investasi yang telah dikeluarkan menghasilkan Return of Investment (tingkat pengembalian investasi) yang maksimal untuk produktivitas dan profitabilitas perusahaan," kata Bambang Rizwanto, dilansir Antara.

Praktisi bisnis transformasi digital bidang pengelolaan energi dan otomasi, Fadli Hamsani, untuk saat ini perusahaan juga dituntut untuk lebih memanfaatkan digital sebagai media pendukung dalam pengambilan keputusan yang cepat, akurat, dan berwawasan berdasarkan data real-time, yang akan meningkatkan efisiensi dan kinerja melalui pengelolaan risiko bisnis dan operasional yang efektif.

Tidak hanya itu, formasi untuk mengelola aset digital menjadi sebuah hal yang vital untuk mengevaluasi dan meningkatkan kinerja aset, mencegah terjadinya kegagalan operasional melalui kemampuan analisis prediktif.

Selain itu, peran digital juga dapat membantu untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan staf dan aset serta meningkatkan efisiensi biaya perbaikan atau penggantian aset akibat kerusakan secara tiba-tiba.

Dalam hal ini, terdapat empat faktor yang harus dipenuhi dalam strategi pengelolaan asset digital, antara lain memastikan ketersediaan (availability) infrastruktur edge dalam kegiatan operasional secara real time dan transparan. Infrastruktur edge (tepi) merupakan infrastruktur teknologi yang berlokasi di dekat populasi (masyarakat) yang menjadi sarana penyediaan layanan.

Memiliki sistem backup (cadangan) and recovery plan (rencana pemulihan) yang terintegrasi, memastikan adanya perlindungan sistem dan peralatan listrik yang baik untuk menjaga performa aset; dan memiliki sistem keamanan fisik dan edge yang terbaik.

Sementara praktisi pemasaran TI kelas perusahaan (enterprise), Ronny Siswanto, mengatakan bahwa di era edge computing, edge data center memiliki perananan sangat penting dalam lingkungan kegiatan operasional yang berbasis perangkat Internet of Things (IoT), di mana tuntutan akan koneksi jarak jauh yang lebih cepat antara data center atau cloud (komputasi awan) dengan perangkat kerja jarak jauh dan kolaborasi lintas batas semakin tinggi.

 

Reporter :
Editor : Sulha Handayani