Netral English Netral Mandarin
banner paskah
19:09wib
Seorang anggota TNI AD berinisial DB luka-luka dan anggota kepolisian berinisial YSB tewas setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal. Sebuah survei yang diinisiasi Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan mayoritas pegawai negeri sipil (PNS) menilai tingkat korupsi di Indonesia meningkat.
Termasuk Berada di Lingkungan Baru, Anak-anak Bisa Terkena Sembelit Pada Waktu-waktu Berikut Ini 

Minggu, 07-Maret-2021 12:00

Ilustrasi anak buang air besar.
Foto : Pinterest
Ilustrasi anak buang air besar.
29

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Konstipasi atau biasa disebut sembelit juga terjadi pada anak-anak sebagian besar disebabkan karena gangguan fungsi organ, bukan organnya sendiri yang bermasalah atau ada kelainan. 

Hal ini ditegaskan Prof dr Hanifah Oswari, Sp.A (K). Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan.

Menurutnya, anak bisa disebut konstipasi bila feses terasa besar dan keras. Konstipasi fungsional itu diduga diakibatkan rasa takut bayi atau anak yang trauma ketika merasa nyeri saat buang air besar akibat feses keras dan besar sehingga anusnya sakit.

Rasa takut membuatnya menahan rasa ingin buang air, akhirnya feses menumpuk hingga terlalu banyak dan memicu rasa sakit berulang.

Lalu, kapan konstipasi terjadi?

Pertama, saat anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, juga perubahan dari susu formula ke susu UHT di mana ada perubahan pola makanan cari ke makanan padat. Perubahan itu membuat kotorannya jadi keras, lalu anak akan merasa sakit ketika buang air besar.

Kedua, ketika anak belum siap berlatih buang air di tempatnya. Ketika orangtua mengajari anak untuk buang air sendiri di toilet, bukan di popok, anak yang belum siap akan menahan sehingga feses jadi keras, kemudian justru jadi takut karena merasa sakit.

Latihan buang air di WC biasanya mulai dilakukan ketika anak berusia 1-3 tahun. Ia mengingatkan kepada orangtua untuk tidak memaksa anak agar tidak terjadi trauma. Pertanda anak sudah bisa diajari toilet training adalah bisa menaikkan dan menurunkan celana sendiri dan tertarik untuk ke toilet.

Ketiga, ketika anak masuk sekolah. Berada di lingkungan yang baru, melihat kondisi toilet yang berbeda dari rumahnya, juga bisa berpotensi membuat anak mengalami sembelit. Konstipasi juga bisa terjadi karena anak menahan buang air bila tidak mau buang air di sekolah karena kondisi yang berbeda, atau karena toiletnya kotor.

"Orang tua harus observasi setiap hari apakah BAB anaknya lancar."

Sebaiknya orangtua rutin memantau anak, atau bertanya apakah anak lancar buang air besar. Kemudian, berikan cairan serta serat yang cukup. Rumusnya adalah usia anak ditambah tiga gram. Untuk anak berusia tiga tahun, serat yang dibutuhkan adalah delapan gram.

Dia memaparkan, konstipasi tidak secara langsung berhubungan dengan nafsu makan anak. Tapi kotoran yang menumpuk di usus membuat anak merasa kenyang dan tidak nyaman saat makan. Si kecil juga bisa berpikir makan banyak akan membuat kotorannya banyak dan keras.

"Tiga hal tidak langsung tersebut membuat anak tidak nafsu makan bahkan tidak mau makan. Maka karena itu, beberapa anak yg mengalami konstipasi itu kurus, namun tidak semua. Waktu kita bereskan konstipasinya, makannya banyak, beratnya naik sendiri tanpa kita apa- apakan pada beratnya," ujarnya seperti dilansir Antara.

Secara sederhana, konstipasi disebabkan rasa takut anak untuk buang air karena fesesnya keras atau besar. Orangtua bisa membantu menghilangkan rasa takut dengan membuat feses anak jadi lunak. Selain memberi asupan cairan dan serat cukup, berikan obat pelunak feses secara teratur. 

Reporter : Irawan HP
Editor : Irawan HP