Netral English Netral Mandarin
banner paskah
06:25wib
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, Senin (10/5/2021), mengumumkan lockdown atau penerapan perintah kontrol pergerakan (MCO) di seluruh wilayah negara untuk mencegah penyebaran Covid-19. Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat atau penetapan 1 Syawal 1442 Hijriah pada hari ini, Selasa (11/5) secara daring dan luring.
Bela Menag, Ngabalin Sindir Anwar Abbas: Pa'tua Ini Ngomong Toleransi Belepotan, Jangan Ngawur

Jumat, 09-April-2021 07:21

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin
Foto : Istimewa
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menyindir Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas yang mengkritik keras usulan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas agar doa semua agama dibacakan di setiap acara Kementerian Agama (Kemenag).

Ngabalin mengatakan, Anwar Abbas seharusnya baca dan pahami dengan baik apa yang disampaikan Menag, sehingga  tidak membuat pernyataan yang ngawur.

Ngabalin juga menyinggung pernyataan Anwar yang menuding Menteri Agama kurang paham soal toleransi. Menurut Ngabalin, pendapat Anwar itu berantakan.

Hal tersebut disampaikan Ngabalin melalui akun Twitternya dengan menautkan pemberitaan media soal pernyataan Gus Yaqut yang merasa heran lantaran usulan doa semua agama di internal Kemenag diributkan, padahal tidak ada yang salah dalam memberikan kesempatan kepada semua agama untuk membacakan doa.

"Makanya saya katakan pa'tua Anwar Abbas ini ngomong toleransi koq BLEPOTAN," cuit @AliNgabalinNew, Kamis (8/4/2021).

"Pahami dulu apa yang dimaksud MENAG RI, baca dengan baik supaya mengomentari satu masalah itu tidak seenak perutmu pa'tua, jangan ngawur," sindir Ngabalin.

Sebelumnya, Menag Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) meminta jajarannya untuk memberikan kesempatan kepada agama lain untuk membacakan doa di acara Kemenag. Tidak hanya doa dari agama Islam saja.

"Pagi hari ini saya senang rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua. Tapi akan lebih indah lagi jika doanya semua agama diberikan kesempatan untuk memulai doa," kata Yaqut dalam sambutannya di rapat kerja nasional (rakernas) Kemenag 2021, Senin (5/4/2021).

Menag mengusulkan demikian agar tidak menimbulkan kesan seolah-olah Kementerian Agama merupakan ormas Islam. Ia menyebut Kemenag adalah rumah bagi semua agama yang ada di Indonesia.

"Jadi jangan ini kesannya kita ini sedang rapat ormas Kementerian Agama, ormas Islam Kementerian Agama, tidak. Kita ini sedang melaksanakan rakernas Kementerian Agama yang di dalamnya bukan hanya urusan agama Islam saja," ujar Gus Yaqut.

Menanggapi pernyataan Menag, Waketum MUI Anwar Abbas menyebut bahwa doa dalam acara Kemenag mesti disesuaikan dengan mayoritas peserta yang hadir dalam acara tersebut atau mengikuti penganut agama terbanyak di suatu daerah dimana acara Kemenag digelar.

"Di daerah dan atau di tempat yang orang Islam banyak di situ, ya silakanlah di situ doanya menurut agama Islam dan yang non Islam silakan menyesuaikan diri untuk juga berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing," kata Anwar Abbas, Senin (5/4/2021).

"Kalau di daerah yang mayoritas Islam seperti di Aceh, itu cukup dengan (doa) ajaran Islam, tetapi kalau di Bali ya (doa) Hindu, kalau di NTT ya (doa) agama Katolik, kalau di Sulawesi Utara (doa) Protestan ya," ucap dia.

Menurut Anwar, usulan itu menunjukkan bahwa Menag kurang paham soal toleransi. Ia bahkan menyebut Gus Yaqut sebagai menteri kehilangan akal.

"Menteri Agama ini kurang ngerti tentang toleransi. Toleransi itu baru punya arti, baru punya makna (jika berada) di tengah-tengah perbedaan dan kita menghargai perbedaan itu," ungkap Anwar.

"Itu namanya Menteri yang menurut saya kehilangan akal, terlalu diobsesi oleh persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan itu tidak rusak oleh keberbedaan," pungkasnya.

Merespons kritik dan protes dari sejumlah pihak atas usulannya tersebut, Gus Yaqut mengaku heran kenapa pernyataannya soal doa untuk semua agama diributkan.

"Jadi salahnya doa ini apa, sih? Orang disuruh doa, kok, ribut? Salahnya doa ini apa? Ini pertanyaan saya, saya boleh, dong, nanya. Salah doanya apa? Kan enggak ada salahnya," kata Gus Yaqut di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (8/4/2021).

Gus Yaqut kemudian menjelaskan alasan dirinya mengusulkan demikian saat Rakernas Kemenag. Ia mengatakan, dalam rakernas itu hadir pegawai eselon 2 dan eselon 1 dari berbagai daerah dengan bermacam-macam agama untuk membahas program kerja yang sudah dan akan dilakukan tahun depan oleh Kemenag.

"Pada waktu itu saya hadir di pembukaan dan doa yang dibacakan hanya doa dalam Islam. Doanya disampaikan dengan cara Islam. Sementara ada pegawai bukan Muslim," ujarnya.

Karena yang hadir di rakernas itu dari berbagai macam agama, lanjut Gus Yaqut, muncullah ide doa semua agama. "Jadi kita harus dorong juga teman yang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu berdoa agar mereka ingat Tuhannya," ucap dia.

Gus Yaqut mengusulkan hal itu dengan tujuan agar para pegawai tersebut lebih dekat dengan Tuhan supaya menghindarkan diri dari perilaku koruptif dan lainnya yang tidak dibenarkan agama.

"Saya memiliki asumsi begini, ketika mereka dekat dengan Tuhannya, mengingat Tuhannya, maka dia akan jauh dari perilaku-perilaku koruptif dan lainnya. Perilaku kurang baik itu otomatis akan jauh dari perilaku pelayanan mereka terhadap masyarakat," papar Gus Yaqut.

"Itu asumsi saya, apakah itu benar ya masing-masing person saya kira. Dengan doa menjauhkan perilaku atau nggak. Kalau doa saja sudah tidak menjauhkan dia dari perilaku buruk terus apalagi yang bisa menjauhkan mereka kecuali maut. Kira-kira begitu," tandasnya.

Gus Yaqut menegaskan bahwa usulan doa semua agama hanya untuk kegiatan di internal Kemenag. "Ya dan itu hanya berlaku di kementerian agama, pas rakernas di mana semua pegawai ikut dan saya tidak pernah mencoba merubah, misalnya praktik doa di acara kenegaraan tidak," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati