Netral English Netral Mandarin
banner paskah
14:42wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Awal Pekan Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ini Salah Satu Penyebabnya 

Senin, 18-January-2021 10:20

Ilustrasi Rupiah
Foto : Istimewa
Ilustrasi Rupiah
60

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (18/1/2021) pagi bergerak melemah di tengah variasi pergerakan mata uang kawasan Asia.

Pada pukul 10.05 WIB, rupiah melemah 45 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp14.065 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.020 per dolar AS.

"Awal pekan ini, kemungkinan masih akan berada di atas Rp14.000 per dolar," kata analis Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Senin (18/1/2021).

Menurut Rully, pergerakan rupiah akan banyak dipengaruhi faktor dari global, terutama kenaikan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama lainnya.

"Kalau saya melihat ada kecenderungan pasar kembali memburu karena beberapa hal negatif, terutama seputar vaksinasi global yang lambat dan kebijakan lockdown yang berdampak kepada ekonomi," ujarnya.

Selain itu, lanjut Rully, pasar juga melihat perkembangan dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan ini.

"Kami perkirakan suku bunga acuan BI tetap masih akan flat di 3,75 persen," katanya.

Rully memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.020 per dolar AS hingga Rp14.093 per dolar AS.

Pada Jumat (15/1/2021) lalu, rupiah ditutup menguat 39 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp14.020 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.059 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.080 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.068 per dolar AS.

Reporter : Nazaruli
Editor : Nazaruli