Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:48wib
KontraS menyatakan selama 100 hari kepemimpinan Jenderal Listyo, kondisi penegakan hukum dan HAM yang dilakukan oleh kepolisian tak kunjung membaik. Pemerintah Nepal tengah kelabakan karena jumlah kasus infeksi virus corona di negara itu melonjak 57 kali lipat, akibat penyebaran virus jenis mutasi dari India.
Ngeri! Arwah Korban Tumbal Pengusaha Katring Hebohkan Karyawan di Cipete Jaksel

Kamis, 15-April-2021 20:25

Ilustrasi kondisi Jalan Abdul Majid, Cipete, Jakarta Selatan
Foto : Istimewa
Ilustrasi kondisi Jalan Abdul Majid, Cipete, Jakarta Selatan
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pagi merangkak. Jakarta dalam pelukan matahari pagi. Yani (37), karyawan di lembaga nirlaba sudah sampai tempat kerjanya di daerah Jalan H. Abdul Majid, Cipete, Jakarta Selatan.

Pukul 09.00 adalah awal pergerakan manusia-manusia menggeluti dunia kerjanya di kantor tersebut. Yang hadir tak banyak mengingat situasi masih pandemik Covid-19 dan jumlah karyawan masuk dibatasi alias terjadwal bergantian.

Yani sudah hanyut dalam kubangan kertas di mejanya. Namun sekitar pukul 10.00 datang suara panggilan dari atasannya untuk menghadap direktur.

Di dalam ruangan direktur telah menanti dua orang perempuan dan seorang lelaki paruh baya. Ibu Direktur memperkenalkan sang tamu yakni Bu Liana dan Ustaz Asep.

Yani terheran karena merasa tak kenal dengan dua orang itu tetapi Ibu Direktur mengatakan bahwa beliau datang untuk membantu “membersihkan” aura negatif yang mungkin mengganggu kelangsungan jalannya lembaga.

Ternyata tamu perempuan dikenal sebagai seorang psikolog dan Sang Ustaz semacam paranormal.

Selang beberapa lama berbincang-bincang, 4 karyawan lain merapat ke ruangan Direktur.

Ibu Direktur membuka sepatah dua patah kata yang intinya, hari ini kedua tamu akan mengecek kondisi kantor melalui kacamata supranatural.

Satu persatu karyawan ditanyai tentang ruangan mana yang selama ini dianggap aneh atau merasakan suatu keanehan misalnya badan merinding saat masuk ruangan.

Masing-masing berpendapat dan tibalah pertanyaan kepada Yani. Yani menyebut ruangan rapat kecil.

Dalam ingatan Yani, di ruangan itu ia pernah melihat sekelebat bayangan putih. Walau sekejab namun setiap kali Yani berada di ruangan itu, bulu kuduknya berdiri.

Benar, ternyata. Ruangan yang disebut Yani, diamini oleh kedua tamu sebagai ruangan “tempat  tinggal” sosok yang entah apa namanya namun terbukti kemudian.

Sepasang lelaki dan perempuan yang menjadi tamu di kantor itu sebelumnya sudah berkeliling. Mereka juga sudah menyimpulkan bahwa ada “sesuatu” di ruangan yang disebutkan Yani.

Semua karyawan saling memandang. Ada getaran takut tiba-tiba menjalar. Disusul kemudian permintaan kedua tamu untuk Yani bersedia memasuki ruangan rapat kecil.

Akan ada  sesuatu harus dilakukan kata mereka.

Dengan ditemani Ibu Direktur dan satu karyawan, Yani diarahkan kedua tamu bergerak menuju ruang rapat kecil. Di dalam ruangan itu terdapat meja dan beberapa kursi rapat.

Ruangan kamar bercat putih sedikit lembab dan penerangan agak redup. Konon, lampu seringkali mati sendiri dan berulang diganti namun tak pernah berumur panjang. Di sudut kamar ada satu lemari tua.

Yani kemudian diminta melakuan gerakan memutar dengan posisi tangan kanan lurus setara dada dan telapak tangan terbuka seolah sedang meraba sesuatu.

Putaran pertama tak ada yang aneh. Putaran kedua lancar. Kembali sang tamu meminta Yani mengulang dan diminta Yani fokus merasakan udara yang diraba oleh telapak tangan.

Di putaran ketiga tiba-tiba mulai da uatu keanehan. Yani merasakan gerakan memutar menjadi berat. Di pundak kiri semakin berat seolah ada sosok yang menggelayut. Semakin berat. Yani pun terkejut.

Gerakan memutar terhenti. Yani mendadak sempoyongan dan mengatakan “Kok aneh. Ada apa ini?”

Saat itulah Bu Liana mengatakan, “Oke Cukup.”

Kedua tamu mengundang semua karyawan berkumpul di ruangan itu. Ada sembilan orang seluruhnya duduk mengitari meja rapat.

Bu Liana meminta semua hening sambil duduk berkeliling di ruangan itu.

“Saya minta bantu agar masing-masing berdoa menurut agama masing-masing. Kita berdoa mohon keselamatan dan kelancaran usaha bagi kantor ini,” kata Liana mengawali.

Semua karyawan memejamkan mata. Yani turut serta membaca doa dalam hati sesuai yang ia imani. Mendadak ia merasakan meja bergetar. Ia berpikir rekannya iseng menggoyang-nggoyang meja.

Namun belum selesai ia heran, ia tiba-tiba merasakan badannya melayang dan tak merasakan apa-apa. Menurut teman-temannya, ia tak sadarkan diri selama sekitar 30 menit.

Selama tak sadarkan diri itulah, Yani ternyata berperilaku aneh. Mulanya ia menangis kecil kemudian berubah menangis berteriak-teriak menghebohkan karyawan lainnya.

Karena kedua tamu itu meminta agar tetap tenang, maka reaksi semua karyawan pun terkendali.

Bu Liana dan Ustaz Asep kemudian menghentikan fenomena “kerasukan”. Menurutnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa memang di kantor itu ada kekuatan supranatural.

Menurut penerawangan Bu Liana dan Ustaz Asep, dahulu, di kantor itu pernah ada pengusaha katring diduga menguburkan “tumbal”.

Tumbal tersebut menurut mereka ada kaitannya dengan sosok perempuan penghuni ruangan rapat kecil.

Meski demikian, Ustaz Asep dan Ibu Liana mengaku sudah menetralisir. Kekuatan itulah yang selama bertahun-tahun membuat setiap usaha di kantor tersebut mengalami gangguan-gangguan tak kasat mata.

Dan memang, sebelum menjadi kantor, beberapa pengusaha kuliner di gedung itu selalu mengalami kegagalan padahal berada di lokasi strategis, pinggir jalan, dan dekat area perkantoran.

Menurut Ibu Liana dan Ustaz Asep, penyebanya adalah sosok arwah perempuan yang konon ditumbalkan oleh pengusaha katring di masa lalu sering mengganggu ingin menuntut balas.

Bagi lembaga nirlaba tempat Yani bekerja itu, sebenarnya penghambat utama sejak berdiri adalah karena datangnya pandemi Covid-19.

Sebagai lembaga yang bergerak dalam kajian seputar energi terbarukan, sebenarnya belum pernah menemukan masalah berat di luar faktor pandemi Covid-19.

Namun, kedatangan dan bantuan dari Bu Liana dan Ustaz Asep dianggap karyawan ikut “menyejukkan” dan memberikan keberanian sehingga bisa bekerja nyaman di masa mendatang.

Hari telah mendekati sore. Ibu Liana dan Ustaz Asep kemudian mohon izin setalah sempat menghadap ke Ibu Direktur. Menurut kedua tamu itu, sebulan lagi mereka akan datang untuk memastikan apakah kekuatan supranatural itu benar-benar sudah pergi atau masih mengganggu.

Catatan: Kisah ini ditulis berdasarkan apa yang diceritakan oleh Yani kepada Netralnews, Minggu 11 April 2021.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto