Netral English Netral Mandarin
05:34wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Apa Benar Hisap Vape Tingkatkan Risiko Terinfeksi Virus Corona?

Jumat, 19-Februari-2021 08:35

Ilustrasi asap rokok.
Foto : verywellmind.com
Ilustrasi asap rokok.
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Timbul pertanyaan di tengah masyarakat, apakah menghisap vape meningkatkan risiko terinfeksi Virus Corona. 

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan, beberapa studi di beberapa negara juga mendapati Covid-19 dimungkinkan tersebar melalui asap vape. 

"Studi-studi itu menyebutkan kalau hembusan asap vape yang dijangkiti virus korona bisa menyebarkan partikel virus ke sekitarnya," kata dia, dikutip dari cuitannya, Jumat (19/2/2021).

Disebutkan juga, hembusan asap vape itu mampu menyebarkan virus hingga dua meter. Menurutnya, tentu ini merugikan bagi orang yang mungkin terkepung dengan asap vape, apalagi jika di sebuah ruangan tertutup dalam waktu lama.

"Prinsipnya, produk tembakau seperti vape, rokok, cerutu, ya mengandung ribuan bahan kimia beracun. Itu kan merusak paru-paru, jantung, dan vena, yang memengaruhi mekanisme pertahanan di saluran udara para perokok," jelas dia.

Keadaan mekanisme pertahanan terganggu, tentu saja sistem kekebalan melemah. Sebab itu, kasus infeksi saluran pernapasan lebih sering terjadi pada perokok dibandingkan non-perokok.

Belum lagi perilaku perokok yang lebih sering menempelkan tangan ke bibir, mulut dan wajah, yang membuat risiko penularan penyakit jadi meningkat. 

Contoh lain adalah berbagi korek dan rokok di antara pengguna yang juga bisa meningkatkan kontaminasi penyakit di antara mereka.

Kata dia, sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perokok memiliki angka penyakit parah dan kematian yang lebih tinggi dibanding dengan non-perokok. Termasuk mendapat gejala berat ketika terinfeksi Covid-19.

"Memang, sempat ada studi yang mengatakan bahwa perokok itu terlindungi dari infeksi korona. Tapi, data yang mendukung klaim itu masih amat terbatas dan patut dipertanyakan," kata dia.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP