Netral English Netral Mandarin
01:43wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Teror Hanya Settingan? Akhmad Sahal: Kalau Ada yang Bilang Rekayasa Konspirasi, Teroris Akan Kipas-Kipas Merasa...

Rabu, 31-Maret-2021 19:40

Akhmad Sahal
Foto : Istimewa
Akhmad Sahal
17

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Geram karena pernyataan petinggi PKS yang menduga aksi bom Makassar sebagai aksi settingan mengganggu kerukunan umat beragama, Akhmad Sahal membuat cuitan keras menkritik pernyataan itu.

Pernyataan Akhmad Sahal sangat relevan mengingat  hari ini, Rabu 31 Maret 2021, aksi teror kembali terjadi di Mabes Polri. 

Melalui akun Twitternya, Akhmad Sahal mengutip pernyataan Ali Imron, salah satu terpidana bom bali beberapa tahun silam.  

“Kalau ada yg bilang aksi terorisme itu rekayasa, konspirasi.. teroris akan kipas-kipas, merasa didukung,” tulis Akhad Sahal. 

Sementara sebelumnya diberitakan, selain mengutuk, anggota Komisi Agama DPR RI, Bukhori Yusuf, juga menyebutkan bahwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar diduga settingan. 

“Saya mengutuk setiap pihak yang terlibat dalam aksi ini. Saya tegaskan, teror ini tidak ada hubungannya dengan ajaran agama tertentu, terutama Islam. Terorisme adalah musuh semua agama,”

Anggota Baleg ini menyerukan kepada setiap pihak untuk tidak menaruh syak wasangka pada umat agama lain supaya tidak memperkeruh suasana dan tidak terjebak dalam rencana picik pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang berada di balik insiden ini.

Pasalnya, politisi PKS ini mencurigai teror bom ini sebagai bagian dari agenda setting untuk merusak kerukunan antar umat beragama yang sudah dibangun selama ini.

Ia menduga ada motif lain dari serangan bom ini, yakni untuk menciptakan citra negatif bagi agama maupun pemeluk agama tertentu.

“Ada pihak-pihak yang tidak menghendaki adanya kerukunan antar dan intra umat beragama. Sementara di sisi lain, mereka tidak senang dengan sumbangsih positif agama yang memiliki dampak multidimensional bagi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini,” imbuhnya.

Alhasil, demikian Bukhori meneruskan, mereka menggunakan cara tidak beradab untuk menebar ketakutan dan memunculkan rasa curiga di tengah masyarakat terhadap sesamanya. Mereka hendak membenturkan sesama umat beragama.Di samping itu, tujuan licik mereka yakni memelihara stigma terhadap agama tertentu. Karena itu, saya menduga ini sebagai tujuan utama dari teror itu, sambungnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto