Netral English Netral Mandarin
banner paskah
15:38wib
Isu reshuffle kabinet kian mengemuka pasca rencana penggabungan Kemenristek ke dalam Kemendikbud. Satgas Penanganan Covid-19 memastikan pengembangan vaksin Merah Putih tetap berjalan dan tidak terpengaruh peleburan Kemenristek dengan Kemendikbud.
Geram dengan Aisha Weddings, AA: Pake Nama Istri Nabi, Manipulasi Ajaran Agama, Menyesatkan...

Kamis, 11-Februari-2021 07:55

Geram dengan Aisha Weddings, Ade Armando sebut Pake Nama Istri Nabi, Manipulasi Ajaran Agama, Menyesatkan...
Foto : Istimewa
Geram dengan Aisha Weddings, Ade Armando sebut Pake Nama Istri Nabi, Manipulasi Ajaran Agama, Menyesatkan...
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wedding organizer bernama Aisha Weddings ramai menjadi pergunjingan warganet di sosial media. Pasalnya, ia mengkampanyekan pernikahan di usia 12 tahun, poligami, dan berdalih demi menjalankan perintah agama.

Merasa geram, Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando, Kamis (11/2/21) menanggapi. Menurutnya, Aisha Weddings merupakan usaha bisnis menyesatkan.

"Cari duit kok gini2 amat? Pake nama istri Nabi, mengkampanyekan pernikahan anak, memanipulasi ajaran agama, menyesatkan pemahaman hukum...,"  kata Ade Armando

Sementara itu, kecaman lain juga datang dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional).

"Perkawinan usia muda akan memunculkan berbagai risiko bagi pasangan pengantin, baik risiko yang berkaitan dengan kesehatan jasmani maupun psikologis. Begitu pun risiko bagi bayi yang akan dilahirkan," tegas Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Rabu (10/2/2021).

Mengutip sebuah penelitian, Hasto yang juga seorang dokter kandungan menyebut kehamilan di usia 10-14 tahun punya risiko kematian 5 kali lebih tinggi dibanding usia 20-25 tahun. Di usia 15-19 tahun, risikonya 2 kali lebih besar.

Berbagai risiko lain yang harus diperhitungkan adalah komplikasi saat melahirkan. Tidak kalah penting, kehamilan di usia terlalu muda juga berisiko memicu stunting, yakni kondisi gagal tumbuh yang antara lain ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan yang tidak optimal.

Psikolog anak dan keluarga dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, lebih tegas lagi menyebut promosi perkawinan di usia sangat muda sebagai ajakan yang 'jahat' dan menjerumuskan. Banyak dampak psikologis yang akan ditanggung di kemudian hari.

Menurut Nina, sapaan akrabnya, masa remaja adalah masa untuk berkembang sebaik-baiknya. berbagai masalah fisik, kognitif, dan sosio-emosional akan muncul jika remaja dipaksa untuk menikah karena secara fisik maupun emosi belum benar-benar matang.

"Jadi kalau aku sih melihat itu menjerumuskan ya, mengerikan kalau misal terutama perempuan, ketika seseorang belum berusia 20 tahun, didorong untuk menikah, itu mengerikan sebetulnya," kata Nina seperti dinukil Detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto